24 Zulhijjah 1447 H | Rabu, 10 Juni 2026
×
Piala Asia U23
Soal VAR, Bukan Bermaksud Menggugat...
olahraga | Rabu, 1 Mei 2024 | 18:53:47 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Redaksi

JAUH sebelum FIFA memutuskan VAR  diberlakukan pada 2016, banyak terjadi protes atas keputusan-keputusan wasit dalam berbagsi pertandingan sepakbola. Bahkan, tidak jarang karena kecurigaan atas prilaku wasit, kerusuhan besar terjadi.

Secara teori, VAR alias Video Assistant Referee adalah sistem yang berfungsi  membantu wasit untuk 'mendekati keadilan'. Dengan begitu, VAR diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan semua pihak pada kinerja wasit dan dua asisten wasit. Ya, VAR adalah mata ketiga dalam setiap pertandingan.

Pertanyaannya, benarkah VAR bisa mendekati keadilan bagi semua pihak? Jawabnya tentu tidak mudah. Mengapa? Ternyata VAR itu sendiri masih dijalankan oleh seorang asisten wasit. Padahal, jika ide VAR itu untuk mendekati keadilan, harusnya tidak lagi ada wasit atau siapa pun  yang mengoperasikannya.

Secara berseloroh ada pihak yang mengatakan, wasit VAR-lah penentu kemenangan salah satu tim. Ya, ini hanya ungkapan bagi mereka yang timnya secara kasat mata malah dirugikan oleh kinerja VAR itu sendiri. Intinya, tetap manusia yang mengendalikan segalanya. Intinya lagi, patut dapat diduga like and dislaike tetap bisa terjadi.

Ditolak FIFA
Adalah Josepp Blatter, Presiden FIFA 1998-2015, secara tegas menolak program VAR. Saat itu, ada teknisi dari Belanda yang mengajukan alat tersebut, tepatnya 2010 awal.

Blatter mengatakan, sepakbola tidak membutuhkan alat itu. "VAR itu dapat menghilangkan 'ruh' sepakbola, kejujuran dan kebersamaan. "Kalau masih ada orang di balik mesin, tidak ada bedanya dengan cara lama," katanya lagi.

KNVB ( Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) memperkenalkan VAR tahun 2010. Kemudian, mereka memberitahukan pada FIFA, Eredivisie tahun 2012-13 memulai dengan menggunakan VAR. 

VAR, baru benar-benar difungsikan 2016, ketika Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Dunia. Maka, jadilah VAR sebagai alat bantu yang diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan berbagai pihak.

Banyak negara yang hingga hari ini belum juga mau menggunakan VAR. Indonesia sendiri, khususnya Liga-1, baru akan menggunakan VAR tahun mendatang. VAR membutuhkan perangkat yang tidak murah sebelum bisa diterapkan di lapangan.

Sementara, Svenska Fotbollförbundet (Federasi Sepakbola Swedia) secara resmi menyatakan menolak menggunakan alat bantu itu. Hal ini dikarena seluruh klub Allsvenskan (liga kasta tertinggi Swedia) yang 51 persen sahamnya dimiliki oleh suporter. Mereka justru terganggu dengan VAR. Seperti kata Blatter, kejujuran dan kebersaaman atsu ruh sepakbola akan hilang. Di samping itu, karena ada wasit pengendali VAR, maka akan menjadi lebih subyektif.

Tidak Wajar
Terkait dengan hal itu, ada beberapa hal yang menarik terkait VAR di Piala Asia U23, 2023, Qatar. Menariknya, ada tiga kisah yang terkait dengan timnas Indonesia. Tulisan ini sama sekali tidak dalam posisi menggugat, tetapi hanya berbagi pandangan saja.

Untuk itu, siapa saja boleh mendukung dan tentu juga boleh berbeda pendapat. Sepanjang tidak untuk saling menghakimi.

Pertama saat kita melawan Qatar, VAR secara over difungsikan untuk mengubah keputusan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan. Awalnya wasit meniupkan peluit untuk Indonesia, menyusul benturan antara Rizky Ridho dengan Mahdi Sakem, di kotak penalti kita pada menut-41.

Namun wasit yang bertugas di control room VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand, berkomunikasi dengan Kabirov. Sang wasit yang awalnya sudah menunjuk pelanggaran untuk kita, berlari ke sisi lapangan. Udom mengulang-ulang adegan yang seolah-olah Rizky melakukan sikutan. Dan penalti pun terjadi, di menit 45+1, gol 1-0 untuk Qatar. 

Ketika di menit 46, Ivar Jenner dituduh menginjak paha atau lutut bek Qatar, Saifeldeen Hassan, wasit langsung memberi kartu merahkan. Tapi,  saat Witan Sulaiman dihajar Saif Eldeen (56), wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, membiarkan saja.

Gawatnya, wasit VAR Pu-Udom, tenang-tenang saja. Padahal jjka VAR digunakan seperti saat Rizky Ridho, sangat mungkin Jenner terbebas. Wong jelas tidak ada sentuhan apapun, meski Saifeldeen memgerang dan berguling. Malah jika Kabirov jujur, pemain Qatar yang akan terkena karena melakukan diving (tipuan).

Kedua, ketika Garuda Muda menghadapi Korsel. Di menit ke-8, wasit Shaun Evans (Australia) menganulir gol Lee Kang Hee, setelah berkomunikasi dengan wasit VAR, dan meneliti tayangan televisi.

Hasilnya, gol untuk Korsel dianulir. Dari tayangan VAR, salah seorang pemain Korsel  berada dalam 'kotak' yang ditampilkan. Artinya, VAR secara tegas menunjukkan posisi pemain Korsel memang kakinya berada lebih di depan dari pemain belakang kita, offside.

Sementara saat gol Muhammad Ferrari ke gawang Uzbekistan, juga dianulir oleh wasit Shen Yin Hao dari Cina juga melalui komunikasi dengan wasit VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand. Bedanya, Pu-Dom sama sekali tidak menampil kotak atau garis VAR seperti seharusnya.

Bahkan jika kita  cermati, ada dua kamera yang beroperasi. Kamera 3 (sejajar dengan pemain, dan diambil dari arah Selatan ke Utara),  sama sekali tidak terlihat ada kaki kanan Sananta. Tapi, jika yang digunakan kamera 4, juga dari arah sama, namun posisi kamera antara pemain dan gawang, maka teelihatlah kaki Sananta.

Rekaman dari kamera-4 yang terus-menerus ditampilkan, hingga akhirnya wasit dari China itu tak ragu untuk menganulir. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menggugat keputusan wasit, saya hanya membandingkan apa yang dilakukan wasit VAR saat gol Lee Kang Hee, dianulir dengan gol Ferrari.

Secara teori, jika garis atau kotak VAR tidak digunakan, maka posisi yang harusnya bisa dinilai mendekati 99 persen, pasti ambyar. Pertanyaannya, mengapa Pu-Udom tidak menggunakannya dan mengapa bukan dari kamera tiga yang sejajar adegan para pemain Sananta itu diulang-ulang?

Jadi, saya sependapat dengan Blatter yang mengatakan, sepanjang alat VAR masih dioperasikan oleh manusia, maka harapan untuk mendekati keadilan, tetap tak bisa diharapkan bisa berjalan dengan benar. Jika begitu, untuk apa VAR? Saya pun angkat topi untuk Federasi Sepakbola Swedia yang secara tegas menolak VAR.

Semoga laga melawan Irak atau negara lain, di event mana pun, kita tidak dirugikan oleh VAR, juga jangan sampai kita menang karena alat itu.***

M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior

Index
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Pastikan Penyaluran BBM di Wilayah Pekanbaru dan Sekitarnya Berjalan Optimal
Anggota DPRD Rohul Dari Gerindra Terang-terangan Tolak Dukung Program Ketua Umum Gerindra
 Masyarakat Kepulauan Meranti Diimbau Gunakan Energi Secara Bijak
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Borong 12 PROPER Hijau
Dorong Kemandirian Ekonomi Warga, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Hadirkan Foodcourt UMKM di Aceh Besar
Berkat Inovasi dan Konsistensi Penjagaan Mutu, Kilang Dumai Borong Penghargaan Laboratory Awards 2025 
Kolaborasi dengan BKKBN, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Dukung Pembangunan Keluarga dan Kesejahteraan Pekerja
Tetap Utamakan Kualitas, Produk Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Lolos Quality Control Laboratory
Senantiasa Terapkan Budaya K3, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Pastikan Operasional Pasca Lebaran Aman
1 April 2026, Ternyata Tidak Ada Perubahan Harga BBM di SPBU Pertamina
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Perpustakaan Soeman HS Masih Menjadi Pilihan Favorit Mahasiswa Selama Ramadhan
Pimpin Konsolidasi Perdana DPP IPP, Muflihun Tegaskan Komitmen dan Program Strategis untuk Pekanbaru
Kukuhkan Muflihun Sebagai Ketua Umum, Plt Gubri Tegaskan Ikatan Putera Pekanbaru Mitra Strategis Pembangunan
Kenduri Anak Pekan Meriahkan Pelantikan IPP 2025–2030, Hadirkan Ragam Budaya dan Hiburan Gratis untuk Warga Pekanbaru
Index
Pertamina Patra Niaga Kilang Produksi Pakning Pastikan Operasional Tetap Optimal
Warga Terdampak Kebakaran di Pasar Lama Bagi Pertamina Patra Niaga Kilang Produksi Pakning
Dorong Penggunaan Lebih Bijak, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Keandalan Distribusi Energi
Peringati Earth Hour 2026, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Hemat Energi dan Tekan Emisi
Hadapi Arus Balik, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Layanan dan Ketersediaan Energi
Staf Khusus Menteri ESDM Pastikan Kesiapan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Layanan Energi
Tetap Siaga di Hari Raya, Tim Fire Brigade Pertamina RU II Dumai Berjibaku Padamkan Karhutla
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Jaga Layanan Energi, Operator SPBU Tetap Bertugas di Hari Raya
Perwira Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Siaga 24 Jam, Jaga Penyaluran Energi Tanpa Henti
Sinergi Hadapi Karhutla, Pertamina RU II Dumai Hibahkan Nozzle Gambut ke Polres
Politik
Jaring Aspirasi Warga RW 11, Hamdani Diminta Perjuangkan Pencegahan Banjir di Jalan Puyuh Mas
Remaja Bernegara NasDem 2026 Dibuka, Latih Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda 
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Pastikan Penyaluran BBM di Wilayah Pekanbaru dan Sekitarnya Berjalan Optimal
Anggota DPRD Rohul Dari Gerindra Terang-terangan Tolak Dukung Program Ketua Umum Gerindra
 Masyarakat Kepulauan Meranti Diimbau Gunakan Energi Secara Bijak
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Borong 12 PROPER Hijau
Hukum
Berkat Inovasi dan Konsistensi Penjagaan Mutu, Kilang Dumai Borong Penghargaan Laboratory Awards 2025 
Marwas: Suruh Aja Orang Agrinas Tu Panggil CV Tiga Bintang Sinergi
Ketika di Klarifikasi, Pimpinan BRI Yang Bersangkutan Justru Telah Dimutasi ke Wilayah Lain
Pengucuran Kredit Bank BRI Ke Kelompok Tani di Pelalawan Sarat Kejanggalan
Nasional
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Batalkan Musorprov, KONI Pusat Perpanjang Masa Jabatan Pengurus KONI Riau hingga September 2026
Tiga Anggota TPP Labrak Aturan dan Arahan KONI Pusat, Fahmi: Tindakan Mereka Ilegal!!!
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
Piala Asia U23
Soal VAR, Bukan Bermaksud Menggugat...
olahraga | Rabu, 1 Mei 2024 | 18:53:47 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Redaksi

JAUH sebelum FIFA memutuskan VAR  diberlakukan pada 2016, banyak terjadi protes atas keputusan-keputusan wasit dalam berbagsi pertandingan sepakbola. Bahkan, tidak jarang karena kecurigaan atas prilaku wasit, kerusuhan besar terjadi.

Secara teori, VAR alias Video Assistant Referee adalah sistem yang berfungsi  membantu wasit untuk 'mendekati keadilan'. Dengan begitu, VAR diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan semua pihak pada kinerja wasit dan dua asisten wasit. Ya, VAR adalah mata ketiga dalam setiap pertandingan.

Pertanyaannya, benarkah VAR bisa mendekati keadilan bagi semua pihak? Jawabnya tentu tidak mudah. Mengapa? Ternyata VAR itu sendiri masih dijalankan oleh seorang asisten wasit. Padahal, jika ide VAR itu untuk mendekati keadilan, harusnya tidak lagi ada wasit atau siapa pun  yang mengoperasikannya.

Secara berseloroh ada pihak yang mengatakan, wasit VAR-lah penentu kemenangan salah satu tim. Ya, ini hanya ungkapan bagi mereka yang timnya secara kasat mata malah dirugikan oleh kinerja VAR itu sendiri. Intinya, tetap manusia yang mengendalikan segalanya. Intinya lagi, patut dapat diduga like and dislaike tetap bisa terjadi.

Ditolak FIFA
Adalah Josepp Blatter, Presiden FIFA 1998-2015, secara tegas menolak program VAR. Saat itu, ada teknisi dari Belanda yang mengajukan alat tersebut, tepatnya 2010 awal.

Blatter mengatakan, sepakbola tidak membutuhkan alat itu. "VAR itu dapat menghilangkan 'ruh' sepakbola, kejujuran dan kebersamaan. "Kalau masih ada orang di balik mesin, tidak ada bedanya dengan cara lama," katanya lagi.

KNVB ( Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) memperkenalkan VAR tahun 2010. Kemudian, mereka memberitahukan pada FIFA, Eredivisie tahun 2012-13 memulai dengan menggunakan VAR. 

VAR, baru benar-benar difungsikan 2016, ketika Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Dunia. Maka, jadilah VAR sebagai alat bantu yang diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan berbagai pihak.

Banyak negara yang hingga hari ini belum juga mau menggunakan VAR. Indonesia sendiri, khususnya Liga-1, baru akan menggunakan VAR tahun mendatang. VAR membutuhkan perangkat yang tidak murah sebelum bisa diterapkan di lapangan.

Sementara, Svenska Fotbollförbundet (Federasi Sepakbola Swedia) secara resmi menyatakan menolak menggunakan alat bantu itu. Hal ini dikarena seluruh klub Allsvenskan (liga kasta tertinggi Swedia) yang 51 persen sahamnya dimiliki oleh suporter. Mereka justru terganggu dengan VAR. Seperti kata Blatter, kejujuran dan kebersaaman atsu ruh sepakbola akan hilang. Di samping itu, karena ada wasit pengendali VAR, maka akan menjadi lebih subyektif.

Tidak Wajar
Terkait dengan hal itu, ada beberapa hal yang menarik terkait VAR di Piala Asia U23, 2023, Qatar. Menariknya, ada tiga kisah yang terkait dengan timnas Indonesia. Tulisan ini sama sekali tidak dalam posisi menggugat, tetapi hanya berbagi pandangan saja.

Untuk itu, siapa saja boleh mendukung dan tentu juga boleh berbeda pendapat. Sepanjang tidak untuk saling menghakimi.

Pertama saat kita melawan Qatar, VAR secara over difungsikan untuk mengubah keputusan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan. Awalnya wasit meniupkan peluit untuk Indonesia, menyusul benturan antara Rizky Ridho dengan Mahdi Sakem, di kotak penalti kita pada menut-41.

Namun wasit yang bertugas di control room VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand, berkomunikasi dengan Kabirov. Sang wasit yang awalnya sudah menunjuk pelanggaran untuk kita, berlari ke sisi lapangan. Udom mengulang-ulang adegan yang seolah-olah Rizky melakukan sikutan. Dan penalti pun terjadi, di menit 45+1, gol 1-0 untuk Qatar. 

Ketika di menit 46, Ivar Jenner dituduh menginjak paha atau lutut bek Qatar, Saifeldeen Hassan, wasit langsung memberi kartu merahkan. Tapi,  saat Witan Sulaiman dihajar Saif Eldeen (56), wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, membiarkan saja.

Gawatnya, wasit VAR Pu-Udom, tenang-tenang saja. Padahal jjka VAR digunakan seperti saat Rizky Ridho, sangat mungkin Jenner terbebas. Wong jelas tidak ada sentuhan apapun, meski Saifeldeen memgerang dan berguling. Malah jika Kabirov jujur, pemain Qatar yang akan terkena karena melakukan diving (tipuan).

Kedua, ketika Garuda Muda menghadapi Korsel. Di menit ke-8, wasit Shaun Evans (Australia) menganulir gol Lee Kang Hee, setelah berkomunikasi dengan wasit VAR, dan meneliti tayangan televisi.

Hasilnya, gol untuk Korsel dianulir. Dari tayangan VAR, salah seorang pemain Korsel  berada dalam 'kotak' yang ditampilkan. Artinya, VAR secara tegas menunjukkan posisi pemain Korsel memang kakinya berada lebih di depan dari pemain belakang kita, offside.

Sementara saat gol Muhammad Ferrari ke gawang Uzbekistan, juga dianulir oleh wasit Shen Yin Hao dari Cina juga melalui komunikasi dengan wasit VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand. Bedanya, Pu-Dom sama sekali tidak menampil kotak atau garis VAR seperti seharusnya.

Bahkan jika kita  cermati, ada dua kamera yang beroperasi. Kamera 3 (sejajar dengan pemain, dan diambil dari arah Selatan ke Utara),  sama sekali tidak terlihat ada kaki kanan Sananta. Tapi, jika yang digunakan kamera 4, juga dari arah sama, namun posisi kamera antara pemain dan gawang, maka teelihatlah kaki Sananta.

Rekaman dari kamera-4 yang terus-menerus ditampilkan, hingga akhirnya wasit dari China itu tak ragu untuk menganulir. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menggugat keputusan wasit, saya hanya membandingkan apa yang dilakukan wasit VAR saat gol Lee Kang Hee, dianulir dengan gol Ferrari.

Secara teori, jika garis atau kotak VAR tidak digunakan, maka posisi yang harusnya bisa dinilai mendekati 99 persen, pasti ambyar. Pertanyaannya, mengapa Pu-Udom tidak menggunakannya dan mengapa bukan dari kamera tiga yang sejajar adegan para pemain Sananta itu diulang-ulang?

Jadi, saya sependapat dengan Blatter yang mengatakan, sepanjang alat VAR masih dioperasikan oleh manusia, maka harapan untuk mendekati keadilan, tetap tak bisa diharapkan bisa berjalan dengan benar. Jika begitu, untuk apa VAR? Saya pun angkat topi untuk Federasi Sepakbola Swedia yang secara tegas menolak VAR.

Semoga laga melawan Irak atau negara lain, di event mana pun, kita tidak dirugikan oleh VAR, juga jangan sampai kita menang karena alat itu.***

M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior

TERKINI
Penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya tetap berjalan optimal guna.
Minggu, 17 Mei 2026 | 08:29:06 WIB
Asumsi kader partai harus tegak lurus dengan kebijakan Pengurus Pusat Partai Politik, ternyata.
Jumat, 24 April 2026 | 21:10:04 WIB
Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menegaskan komitmennya dalam.
Jumat, 10 April 2026 | 14:36:05 WIB

Pertamina Patra Niaga kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih penghargaan dalam.

Rabu, 8 April 2026 | 22:00:00 WIB
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Fuel Terminal (FT) Krueng Raya meresmikan.
Selasa, 7 April 2026 | 06:10:32 WIB