
JAUH sebelum FIFA memutuskan VAR diberlakukan pada 2016, banyak terjadi protes atas keputusan-keputusan wasit dalam berbagsi pertandingan sepakbola. Bahkan, tidak jarang karena kecurigaan atas prilaku wasit, kerusuhan besar terjadi.
Secara teori, VAR alias Video Assistant Referee adalah sistem yang berfungsi membantu wasit untuk 'mendekati keadilan'. Dengan begitu, VAR diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan semua pihak pada kinerja wasit dan dua asisten wasit. Ya, VAR adalah mata ketiga dalam setiap pertandingan.
Pertanyaannya, benarkah VAR bisa mendekati keadilan bagi semua pihak? Jawabnya tentu tidak mudah. Mengapa? Ternyata VAR itu sendiri masih dijalankan oleh seorang asisten wasit. Padahal, jika ide VAR itu untuk mendekati keadilan, harusnya tidak lagi ada wasit atau siapa pun yang mengoperasikannya.
Secara berseloroh ada pihak yang mengatakan, wasit VAR-lah penentu kemenangan salah satu tim. Ya, ini hanya ungkapan bagi mereka yang timnya secara kasat mata malah dirugikan oleh kinerja VAR itu sendiri. Intinya, tetap manusia yang mengendalikan segalanya. Intinya lagi, patut dapat diduga like and dislaike tetap bisa terjadi.
Ditolak FIFA
Adalah Josepp Blatter, Presiden FIFA 1998-2015, secara tegas menolak program VAR. Saat itu, ada teknisi dari Belanda yang mengajukan alat tersebut, tepatnya 2010 awal.
Blatter mengatakan, sepakbola tidak membutuhkan alat itu. "VAR itu dapat menghilangkan 'ruh' sepakbola, kejujuran dan kebersamaan. "Kalau masih ada orang di balik mesin, tidak ada bedanya dengan cara lama," katanya lagi.
KNVB ( Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) memperkenalkan VAR tahun 2010. Kemudian, mereka memberitahukan pada FIFA, Eredivisie tahun 2012-13 memulai dengan menggunakan VAR.
VAR, baru benar-benar difungsikan 2016, ketika Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Dunia. Maka, jadilah VAR sebagai alat bantu yang diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan berbagai pihak.
Banyak negara yang hingga hari ini belum juga mau menggunakan VAR. Indonesia sendiri, khususnya Liga-1, baru akan menggunakan VAR tahun mendatang. VAR membutuhkan perangkat yang tidak murah sebelum bisa diterapkan di lapangan.
Sementara, Svenska Fotbollförbundet (Federasi Sepakbola Swedia) secara resmi menyatakan menolak menggunakan alat bantu itu. Hal ini dikarena seluruh klub Allsvenskan (liga kasta tertinggi Swedia) yang 51 persen sahamnya dimiliki oleh suporter. Mereka justru terganggu dengan VAR. Seperti kata Blatter, kejujuran dan kebersaaman atsu ruh sepakbola akan hilang. Di samping itu, karena ada wasit pengendali VAR, maka akan menjadi lebih subyektif.
Tidak Wajar
Terkait dengan hal itu, ada beberapa hal yang menarik terkait VAR di Piala Asia U23, 2023, Qatar. Menariknya, ada tiga kisah yang terkait dengan timnas Indonesia. Tulisan ini sama sekali tidak dalam posisi menggugat, tetapi hanya berbagi pandangan saja.
Untuk itu, siapa saja boleh mendukung dan tentu juga boleh berbeda pendapat. Sepanjang tidak untuk saling menghakimi.
Pertama saat kita melawan Qatar, VAR secara over difungsikan untuk mengubah keputusan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan. Awalnya wasit meniupkan peluit untuk Indonesia, menyusul benturan antara Rizky Ridho dengan Mahdi Sakem, di kotak penalti kita pada menut-41.
Namun wasit yang bertugas di control room VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand, berkomunikasi dengan Kabirov. Sang wasit yang awalnya sudah menunjuk pelanggaran untuk kita, berlari ke sisi lapangan. Udom mengulang-ulang adegan yang seolah-olah Rizky melakukan sikutan. Dan penalti pun terjadi, di menit 45+1, gol 1-0 untuk Qatar.
Ketika di menit 46, Ivar Jenner dituduh menginjak paha atau lutut bek Qatar, Saifeldeen Hassan, wasit langsung memberi kartu merahkan. Tapi, saat Witan Sulaiman dihajar Saif Eldeen (56), wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, membiarkan saja.
Gawatnya, wasit VAR Pu-Udom, tenang-tenang saja. Padahal jjka VAR digunakan seperti saat Rizky Ridho, sangat mungkin Jenner terbebas. Wong jelas tidak ada sentuhan apapun, meski Saifeldeen memgerang dan berguling. Malah jika Kabirov jujur, pemain Qatar yang akan terkena karena melakukan diving (tipuan).
Kedua, ketika Garuda Muda menghadapi Korsel. Di menit ke-8, wasit Shaun Evans (Australia) menganulir gol Lee Kang Hee, setelah berkomunikasi dengan wasit VAR, dan meneliti tayangan televisi.
Hasilnya, gol untuk Korsel dianulir. Dari tayangan VAR, salah seorang pemain Korsel berada dalam 'kotak' yang ditampilkan. Artinya, VAR secara tegas menunjukkan posisi pemain Korsel memang kakinya berada lebih di depan dari pemain belakang kita, offside.
Sementara saat gol Muhammad Ferrari ke gawang Uzbekistan, juga dianulir oleh wasit Shen Yin Hao dari Cina juga melalui komunikasi dengan wasit VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand. Bedanya, Pu-Dom sama sekali tidak menampil kotak atau garis VAR seperti seharusnya.
Bahkan jika kita cermati, ada dua kamera yang beroperasi. Kamera 3 (sejajar dengan pemain, dan diambil dari arah Selatan ke Utara), sama sekali tidak terlihat ada kaki kanan Sananta. Tapi, jika yang digunakan kamera 4, juga dari arah sama, namun posisi kamera antara pemain dan gawang, maka teelihatlah kaki Sananta.
Rekaman dari kamera-4 yang terus-menerus ditampilkan, hingga akhirnya wasit dari China itu tak ragu untuk menganulir. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menggugat keputusan wasit, saya hanya membandingkan apa yang dilakukan wasit VAR saat gol Lee Kang Hee, dianulir dengan gol Ferrari.
Secara teori, jika garis atau kotak VAR tidak digunakan, maka posisi yang harusnya bisa dinilai mendekati 99 persen, pasti ambyar. Pertanyaannya, mengapa Pu-Udom tidak menggunakannya dan mengapa bukan dari kamera tiga yang sejajar adegan para pemain Sananta itu diulang-ulang?
Jadi, saya sependapat dengan Blatter yang mengatakan, sepanjang alat VAR masih dioperasikan oleh manusia, maka harapan untuk mendekati keadilan, tetap tak bisa diharapkan bisa berjalan dengan benar. Jika begitu, untuk apa VAR? Saya pun angkat topi untuk Federasi Sepakbola Swedia yang secara tegas menolak VAR.
Semoga laga melawan Irak atau negara lain, di event mana pun, kita tidak dirugikan oleh VAR, juga jangan sampai kita menang karena alat itu.***
M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
Hadapi Kabut Asap, Kalambangja Lanud Roesmin Nurjadin Ajak Personel dan Masyarakat Jaga Kesehatan Senin, 12 Oktober 2026 | 12:52:59 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan Pemprov Riau Pererat Kolaborasi untuk Pelayanan Energi Masyarakat Jumat, 9 Oktober 2026 | 21:05:57 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan Kejati Riau Perkuat Sinergi Jaga Keandalan Distribusi Energi Jumat, 9 Oktober 2026 | 13:20:49 WIB |
Cegah Dampak Kabut Asap, Lanud Roesmin Nurjadin Bagikan Masker kepada Warga Jumat, 9 Oktober 2026 | 13:16:31 WIB |
Pemantauan Awan Potensial Terus Dilakukan, Satgas Udara Lanud RSN Harapkan Hujan Redakan Asap Kamis, 8 Oktober 2026 | 14:06:01 WIB |
Karhutla Riau Zero Titik Api, Satgas Udara Terus Pantau Pergerakan Asap Rabu, 7 Oktober 2026 | 20:00:12 WIB |
Riau Nihil Karhutla, Satgas Udara Lanud Roesmin Nurjadin Tetap Siaga Pantau Titik Rawan Selasa, 6 Oktober 2026 | 15:25:58 WIB |
Harapan LIRA Kepada Kapolda Riau, Jangan Jadikan Hukum Sebagai Alat Mempermalukan Rakyat Riau Selasa, 6 Oktober 2026 | 11:23:50 WIB |
Satgas Udara Lanud Roesmin Nurjadin Tetap Intensif Pantau Karhutla Riau Senin, 5 Oktober 2026 | 15:32:50 WIB |
Crew Baru Caracal Satgas Udara Lanud RSN Lakukan Orientasi Wilayah Karhutla Sabtu, 3 Oktober 2026 | 19:15:00 WIB |
JMSI Riau Akan Gelar UKW 4-6 November 2026, Buruan Daftar Tempat Terbatas Senin, 28 September 2026 | 16:17:51 WIB |
DPW BKPRMI Riau Serukan Kader di Daerah Bersiap Sambut Road to Kabupaten/Kota dan Musda Selasa, 15 September 2026 | 09:33:28 WIB |
Jambore BKPRMI Riau 2026 Resmi Dibuka, Mengusung Visi Dari Masjid Menggerakkan Ekonomi Ummat Jumat, 11 September 2026 | 14:30:42 WIB |
Selain Hadirkan Koh Denis Lim pada Puncak Jambore BKPRMI, DPW Riau juga Gelar Berbagai Event Selasa, 8 September 2026 | 12:09:49 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Terus Dorong Upaya Pemulihan Pasca Banjir Bandang "Galodo" di Kabupaten Solok Sabtu, 3 Oktober 2026 | 12:00:00 WIB |
Patra Niaga Sumbagut dan Gubernur Kepulauan Riau Perkuat Sinergi untuk Kelancaran Energi Kepulauan Jumat, 2 Oktober 2026 | 21:00:00 WIB |
Satgas Udara Gerak Cepat, Tiga Fire Spot di Riau Langsung Ditangani Jumat, 2 Oktober 2026 | 16:19:51 WIB |
PLLU Lanud Roesmin Nurjadin, Garda di Balik Kelancaran Operasi Udara Karhutla Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:54:27 WIB |
Resmikan Jembatan Merah Putih Danlanud Roesmin Nurjadin Ajak Warga Saling Menjaga Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:51:35 WIB |
Komjen Suyudi Jadi Nama Tunggal Calon Kapolri, DPR Siapkan Uji Kelayakan Kamis, 1 Oktober 2026 | 10:41:32 WIB |
Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026 Ditutup, Catat Nilai Transaksi Hingga Ratusan Juta Rupiah Kamis, 1 Oktober 2026 | 10:12:48 WIB |
Dampingi Menhut Tinjau Rumah Restorasi Gambut Bengkalis, Danlanud RSN Tegaskan Kolaborasi Penanganan Karhutla Rabu, 30 September 2026 | 21:45:35 WIB |
Patra Niaga Sumbagut Apresiasi Sinergi Lintas Instansi, Bersama Perkuat Pengawasan Penyaluran BBM di Aceh Rabu, 30 September 2026 | 21:42:33 WIB |
Patra Niaga Sumbagut Bersama Pemda Pantau SPBU di Riau, Pastikan Penyaluran BBM Berjalan Lancar Rabu, 30 September 2026 | 20:00:00 WIB |
Jaring Aspirasi Warga RW 11, Hamdani Diminta Perjuangkan Pencegahan Banjir di Jalan Puyuh Mas Sabtu, 21 Februari 2026 | 15:38:43 WIB |
Remaja Bernegara NasDem 2026 Dibuka, Latih Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda Sabtu, 14 Februari 2026 | 15:32:00 WIB |
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau. Rabu, 11 Februari 2026 | 05:57:02 WIB |
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau Senin, 3 November 2025 | 13:31:11 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan Pemprov Riau Pererat Kolaborasi untuk Pelayanan Energi Masyarakat Jumat, 9 Oktober 2026 | 21:05:57 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dan Kejati Riau Perkuat Sinergi Jaga Keandalan Distribusi Energi Jumat, 9 Oktober 2026 | 13:20:49 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Terus Dorong Upaya Pemulihan Pasca Banjir Bandang "Galodo" di Kabupaten Solok Sabtu, 3 Oktober 2026 | 12:00:00 WIB |
Patra Niaga Sumbagut dan Gubernur Kepulauan Riau Perkuat Sinergi untuk Kelancaran Energi Kepulauan Jumat, 2 Oktober 2026 | 21:00:00 WIB |
Harapan LIRA Kepada Kapolda Riau, Jangan Jadikan Hukum Sebagai Alat Mempermalukan Rakyat Riau Selasa, 6 Oktober 2026 | 11:23:50 WIB |
Marwas: Suruh Aja Orang Agrinas Tu Panggil CV Tiga Bintang Sinergi Jumat, 13 Maret 2026 | 15:20:25 WIB |
Ketika di Klarifikasi, Pimpinan BRI Yang Bersangkutan Justru Telah Dimutasi ke Wilayah Lain Selasa, 3 Maret 2026 | 13:57:09 WIB |
Pengucuran Kredit Bank BRI Ke Kelompok Tani di Pelalawan Sarat Kejanggalan Selasa, 24 Februari 2026 | 11:43:44 WIB |
Hadapi Kabut Asap, Kalambangja Lanud Roesmin Nurjadin Ajak Personel dan Masyarakat Jaga Kesehatan Senin, 12 Oktober 2026 | 12:52:59 WIB |
Cegah Dampak Kabut Asap, Lanud Roesmin Nurjadin Bagikan Masker kepada Warga Jumat, 9 Oktober 2026 | 13:16:31 WIB |
Pemantauan Awan Potensial Terus Dilakukan, Satgas Udara Lanud RSN Harapkan Hujan Redakan Asap Kamis, 8 Oktober 2026 | 14:06:01 WIB |
Karhutla Riau Zero Titik Api, Satgas Udara Terus Pantau Pergerakan Asap Rabu, 7 Oktober 2026 | 20:00:12 WIB |
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin Kamis, 21 Agustus 2025 | 10:45:44 WIB |
16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya Rabu, 6 Desember 2023 | 10:26:13 WIB |
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas Senin, 4 Desember 2023 | 09:44:39 WIB |
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB |
Batalkan Musorprov, KONI Pusat Perpanjang Masa Jabatan Pengurus KONI Riau hingga September 2026 Selasa, 17 Maret 2026 | 14:04:01 WIB |
Tiga Anggota TPP Labrak Aturan dan Arahan KONI Pusat, Fahmi: Tindakan Mereka Ilegal!!! Kamis, 26 Februari 2026 | 14:05:07 WIB |
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau Senin, 15 Desember 2025 | 08:50:20 WIB |
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain Selasa, 14 Oktober 2025 | 16:57:00 WIB |

JAUH sebelum FIFA memutuskan VAR diberlakukan pada 2016, banyak terjadi protes atas keputusan-keputusan wasit dalam berbagsi pertandingan sepakbola. Bahkan, tidak jarang karena kecurigaan atas prilaku wasit, kerusuhan besar terjadi.
Secara teori, VAR alias Video Assistant Referee adalah sistem yang berfungsi membantu wasit untuk 'mendekati keadilan'. Dengan begitu, VAR diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan semua pihak pada kinerja wasit dan dua asisten wasit. Ya, VAR adalah mata ketiga dalam setiap pertandingan.
Pertanyaannya, benarkah VAR bisa mendekati keadilan bagi semua pihak? Jawabnya tentu tidak mudah. Mengapa? Ternyata VAR itu sendiri masih dijalankan oleh seorang asisten wasit. Padahal, jika ide VAR itu untuk mendekati keadilan, harusnya tidak lagi ada wasit atau siapa pun yang mengoperasikannya.
Secara berseloroh ada pihak yang mengatakan, wasit VAR-lah penentu kemenangan salah satu tim. Ya, ini hanya ungkapan bagi mereka yang timnya secara kasat mata malah dirugikan oleh kinerja VAR itu sendiri. Intinya, tetap manusia yang mengendalikan segalanya. Intinya lagi, patut dapat diduga like and dislaike tetap bisa terjadi.
Ditolak FIFA
Adalah Josepp Blatter, Presiden FIFA 1998-2015, secara tegas menolak program VAR. Saat itu, ada teknisi dari Belanda yang mengajukan alat tersebut, tepatnya 2010 awal.
Blatter mengatakan, sepakbola tidak membutuhkan alat itu. "VAR itu dapat menghilangkan 'ruh' sepakbola, kejujuran dan kebersamaan. "Kalau masih ada orang di balik mesin, tidak ada bedanya dengan cara lama," katanya lagi.
KNVB ( Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) memperkenalkan VAR tahun 2010. Kemudian, mereka memberitahukan pada FIFA, Eredivisie tahun 2012-13 memulai dengan menggunakan VAR.
VAR, baru benar-benar difungsikan 2016, ketika Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Dunia. Maka, jadilah VAR sebagai alat bantu yang diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan berbagai pihak.
Banyak negara yang hingga hari ini belum juga mau menggunakan VAR. Indonesia sendiri, khususnya Liga-1, baru akan menggunakan VAR tahun mendatang. VAR membutuhkan perangkat yang tidak murah sebelum bisa diterapkan di lapangan.
Sementara, Svenska Fotbollförbundet (Federasi Sepakbola Swedia) secara resmi menyatakan menolak menggunakan alat bantu itu. Hal ini dikarena seluruh klub Allsvenskan (liga kasta tertinggi Swedia) yang 51 persen sahamnya dimiliki oleh suporter. Mereka justru terganggu dengan VAR. Seperti kata Blatter, kejujuran dan kebersaaman atsu ruh sepakbola akan hilang. Di samping itu, karena ada wasit pengendali VAR, maka akan menjadi lebih subyektif.
Tidak Wajar
Terkait dengan hal itu, ada beberapa hal yang menarik terkait VAR di Piala Asia U23, 2023, Qatar. Menariknya, ada tiga kisah yang terkait dengan timnas Indonesia. Tulisan ini sama sekali tidak dalam posisi menggugat, tetapi hanya berbagi pandangan saja.
Untuk itu, siapa saja boleh mendukung dan tentu juga boleh berbeda pendapat. Sepanjang tidak untuk saling menghakimi.
Pertama saat kita melawan Qatar, VAR secara over difungsikan untuk mengubah keputusan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan. Awalnya wasit meniupkan peluit untuk Indonesia, menyusul benturan antara Rizky Ridho dengan Mahdi Sakem, di kotak penalti kita pada menut-41.
Namun wasit yang bertugas di control room VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand, berkomunikasi dengan Kabirov. Sang wasit yang awalnya sudah menunjuk pelanggaran untuk kita, berlari ke sisi lapangan. Udom mengulang-ulang adegan yang seolah-olah Rizky melakukan sikutan. Dan penalti pun terjadi, di menit 45+1, gol 1-0 untuk Qatar.
Ketika di menit 46, Ivar Jenner dituduh menginjak paha atau lutut bek Qatar, Saifeldeen Hassan, wasit langsung memberi kartu merahkan. Tapi, saat Witan Sulaiman dihajar Saif Eldeen (56), wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, membiarkan saja.
Gawatnya, wasit VAR Pu-Udom, tenang-tenang saja. Padahal jjka VAR digunakan seperti saat Rizky Ridho, sangat mungkin Jenner terbebas. Wong jelas tidak ada sentuhan apapun, meski Saifeldeen memgerang dan berguling. Malah jika Kabirov jujur, pemain Qatar yang akan terkena karena melakukan diving (tipuan).
Kedua, ketika Garuda Muda menghadapi Korsel. Di menit ke-8, wasit Shaun Evans (Australia) menganulir gol Lee Kang Hee, setelah berkomunikasi dengan wasit VAR, dan meneliti tayangan televisi.
Hasilnya, gol untuk Korsel dianulir. Dari tayangan VAR, salah seorang pemain Korsel berada dalam 'kotak' yang ditampilkan. Artinya, VAR secara tegas menunjukkan posisi pemain Korsel memang kakinya berada lebih di depan dari pemain belakang kita, offside.
Sementara saat gol Muhammad Ferrari ke gawang Uzbekistan, juga dianulir oleh wasit Shen Yin Hao dari Cina juga melalui komunikasi dengan wasit VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand. Bedanya, Pu-Dom sama sekali tidak menampil kotak atau garis VAR seperti seharusnya.
Bahkan jika kita cermati, ada dua kamera yang beroperasi. Kamera 3 (sejajar dengan pemain, dan diambil dari arah Selatan ke Utara), sama sekali tidak terlihat ada kaki kanan Sananta. Tapi, jika yang digunakan kamera 4, juga dari arah sama, namun posisi kamera antara pemain dan gawang, maka teelihatlah kaki Sananta.
Rekaman dari kamera-4 yang terus-menerus ditampilkan, hingga akhirnya wasit dari China itu tak ragu untuk menganulir. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menggugat keputusan wasit, saya hanya membandingkan apa yang dilakukan wasit VAR saat gol Lee Kang Hee, dianulir dengan gol Ferrari.
Secara teori, jika garis atau kotak VAR tidak digunakan, maka posisi yang harusnya bisa dinilai mendekati 99 persen, pasti ambyar. Pertanyaannya, mengapa Pu-Udom tidak menggunakannya dan mengapa bukan dari kamera tiga yang sejajar adegan para pemain Sananta itu diulang-ulang?
Jadi, saya sependapat dengan Blatter yang mengatakan, sepanjang alat VAR masih dioperasikan oleh manusia, maka harapan untuk mendekati keadilan, tetap tak bisa diharapkan bisa berjalan dengan benar. Jika begitu, untuk apa VAR? Saya pun angkat topi untuk Federasi Sepakbola Swedia yang secara tegas menolak VAR.
Semoga laga melawan Irak atau negara lain, di event mana pun, kita tidak dirugikan oleh VAR, juga jangan sampai kita menang karena alat itu.***
M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
| Karmila Sari: Guru dan Dosen Harus Jadi Prioritas dalam RUU Sisdiknas | Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat |