8 Muharram 1446 H | Senin, 15 Juli 2024
×
Piala Asia U23
Soal VAR, Bukan Bermaksud Menggugat...
olahraga | Rabu, 1 Mei 2024 | 18:53:47 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Redaksi

JAUH sebelum FIFA memutuskan VAR  diberlakukan pada 2016, banyak terjadi protes atas keputusan-keputusan wasit dalam berbagsi pertandingan sepakbola. Bahkan, tidak jarang karena kecurigaan atas prilaku wasit, kerusuhan besar terjadi.

Secara teori, VAR alias Video Assistant Referee adalah sistem yang berfungsi  membantu wasit untuk 'mendekati keadilan'. Dengan begitu, VAR diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan semua pihak pada kinerja wasit dan dua asisten wasit. Ya, VAR adalah mata ketiga dalam setiap pertandingan.

Pertanyaannya, benarkah VAR bisa mendekati keadilan bagi semua pihak? Jawabnya tentu tidak mudah. Mengapa? Ternyata VAR itu sendiri masih dijalankan oleh seorang asisten wasit. Padahal, jika ide VAR itu untuk mendekati keadilan, harusnya tidak lagi ada wasit atau siapa pun  yang mengoperasikannya.

Secara berseloroh ada pihak yang mengatakan, wasit VAR-lah penentu kemenangan salah satu tim. Ya, ini hanya ungkapan bagi mereka yang timnya secara kasat mata malah dirugikan oleh kinerja VAR itu sendiri. Intinya, tetap manusia yang mengendalikan segalanya. Intinya lagi, patut dapat diduga like and dislaike tetap bisa terjadi.

Ditolak FIFA
Adalah Josepp Blatter, Presiden FIFA 1998-2015, secara tegas menolak program VAR. Saat itu, ada teknisi dari Belanda yang mengajukan alat tersebut, tepatnya 2010 awal.

Blatter mengatakan, sepakbola tidak membutuhkan alat itu. "VAR itu dapat menghilangkan 'ruh' sepakbola, kejujuran dan kebersamaan. "Kalau masih ada orang di balik mesin, tidak ada bedanya dengan cara lama," katanya lagi.

KNVB ( Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) memperkenalkan VAR tahun 2010. Kemudian, mereka memberitahukan pada FIFA, Eredivisie tahun 2012-13 memulai dengan menggunakan VAR. 

VAR, baru benar-benar difungsikan 2016, ketika Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Dunia. Maka, jadilah VAR sebagai alat bantu yang diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan berbagai pihak.

Banyak negara yang hingga hari ini belum juga mau menggunakan VAR. Indonesia sendiri, khususnya Liga-1, baru akan menggunakan VAR tahun mendatang. VAR membutuhkan perangkat yang tidak murah sebelum bisa diterapkan di lapangan.

Sementara, Svenska Fotbollförbundet (Federasi Sepakbola Swedia) secara resmi menyatakan menolak menggunakan alat bantu itu. Hal ini dikarena seluruh klub Allsvenskan (liga kasta tertinggi Swedia) yang 51 persen sahamnya dimiliki oleh suporter. Mereka justru terganggu dengan VAR. Seperti kata Blatter, kejujuran dan kebersaaman atsu ruh sepakbola akan hilang. Di samping itu, karena ada wasit pengendali VAR, maka akan menjadi lebih subyektif.

Tidak Wajar
Terkait dengan hal itu, ada beberapa hal yang menarik terkait VAR di Piala Asia U23, 2023, Qatar. Menariknya, ada tiga kisah yang terkait dengan timnas Indonesia. Tulisan ini sama sekali tidak dalam posisi menggugat, tetapi hanya berbagi pandangan saja.

Untuk itu, siapa saja boleh mendukung dan tentu juga boleh berbeda pendapat. Sepanjang tidak untuk saling menghakimi.

Pertama saat kita melawan Qatar, VAR secara over difungsikan untuk mengubah keputusan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan. Awalnya wasit meniupkan peluit untuk Indonesia, menyusul benturan antara Rizky Ridho dengan Mahdi Sakem, di kotak penalti kita pada menut-41.

Namun wasit yang bertugas di control room VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand, berkomunikasi dengan Kabirov. Sang wasit yang awalnya sudah menunjuk pelanggaran untuk kita, berlari ke sisi lapangan. Udom mengulang-ulang adegan yang seolah-olah Rizky melakukan sikutan. Dan penalti pun terjadi, di menit 45+1, gol 1-0 untuk Qatar. 

Ketika di menit 46, Ivar Jenner dituduh menginjak paha atau lutut bek Qatar, Saifeldeen Hassan, wasit langsung memberi kartu merahkan. Tapi,  saat Witan Sulaiman dihajar Saif Eldeen (56), wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, membiarkan saja.

Gawatnya, wasit VAR Pu-Udom, tenang-tenang saja. Padahal jjka VAR digunakan seperti saat Rizky Ridho, sangat mungkin Jenner terbebas. Wong jelas tidak ada sentuhan apapun, meski Saifeldeen memgerang dan berguling. Malah jika Kabirov jujur, pemain Qatar yang akan terkena karena melakukan diving (tipuan).

Kedua, ketika Garuda Muda menghadapi Korsel. Di menit ke-8, wasit Shaun Evans (Australia) menganulir gol Lee Kang Hee, setelah berkomunikasi dengan wasit VAR, dan meneliti tayangan televisi.

Hasilnya, gol untuk Korsel dianulir. Dari tayangan VAR, salah seorang pemain Korsel  berada dalam 'kotak' yang ditampilkan. Artinya, VAR secara tegas menunjukkan posisi pemain Korsel memang kakinya berada lebih di depan dari pemain belakang kita, offside.

Sementara saat gol Muhammad Ferrari ke gawang Uzbekistan, juga dianulir oleh wasit Shen Yin Hao dari Cina juga melalui komunikasi dengan wasit VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand. Bedanya, Pu-Dom sama sekali tidak menampil kotak atau garis VAR seperti seharusnya.

Bahkan jika kita  cermati, ada dua kamera yang beroperasi. Kamera 3 (sejajar dengan pemain, dan diambil dari arah Selatan ke Utara),  sama sekali tidak terlihat ada kaki kanan Sananta. Tapi, jika yang digunakan kamera 4, juga dari arah sama, namun posisi kamera antara pemain dan gawang, maka teelihatlah kaki Sananta.

Rekaman dari kamera-4 yang terus-menerus ditampilkan, hingga akhirnya wasit dari China itu tak ragu untuk menganulir. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menggugat keputusan wasit, saya hanya membandingkan apa yang dilakukan wasit VAR saat gol Lee Kang Hee, dianulir dengan gol Ferrari.

Secara teori, jika garis atau kotak VAR tidak digunakan, maka posisi yang harusnya bisa dinilai mendekati 99 persen, pasti ambyar. Pertanyaannya, mengapa Pu-Udom tidak menggunakannya dan mengapa bukan dari kamera tiga yang sejajar adegan para pemain Sananta itu diulang-ulang?

Jadi, saya sependapat dengan Blatter yang mengatakan, sepanjang alat VAR masih dioperasikan oleh manusia, maka harapan untuk mendekati keadilan, tetap tak bisa diharapkan bisa berjalan dengan benar. Jika begitu, untuk apa VAR? Saya pun angkat topi untuk Federasi Sepakbola Swedia yang secara tegas menolak VAR.

Semoga laga melawan Irak atau negara lain, di event mana pun, kita tidak dirugikan oleh VAR, juga jangan sampai kita menang karena alat itu.***

M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior

Index
NasDem Usung H Bistamam - Jhony Charles Bertarung di Rokan Hilir 
Wisatawan Tujuan Siak Semakin Bijak Dalam Memilih Bus Pariwisata
52 Kendaraan Pelanggar ODOL Diberi Sanksi, Satu Travel Ilegal Diamankan
Kaget Sekaligus Kagumi Hasil Kerajinan Tangan Penghuni Panti
Menjadi Calon Paskibraka Terpilih Tingkat Pusat, Juara Tilawah MTQ TNI AU Ini Sujud Syukur
Terancam Merugi Pengusaha Ekspedisi Sembako Berharap Tambahan Kapal Roro
Dua Unit Bus Para Wisatawan Tradisi Bakar Tongkang Tak Laik Jalan
89 Tilang Dilayangkan Dalam Kolaborasi BPTD Riau dan Polres Kampar
20 Juli 2024, Mubes Perdana Kerukunan Keluarga Sumatera Barat
Ambil Formulir Pendaftaran, DHL Siap Pimpin AFP Riau 
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Wisatawan Tujuan Siak Semakin Bijak Dalam Memilih Bus Pariwisata
52 Kendaraan Pelanggar ODOL Diberi Sanksi, Satu Travel Ilegal Diamankan
Kaget Sekaligus Kagumi Hasil Kerajinan Tangan Penghuni Panti
89 Tilang Dilayangkan Dalam Kolaborasi BPTD Riau dan Polres Kampar
Index
Mau Sewa Bus Pariwisata? Ini Kata Kepala BPTD Kelas II Riau!
Agar Bus Pariwisata Utamakan Keselamatan, Akan Dilakukan Pemeriksaan Tiap Minggu
Tak Ada Toleransi Lagi, Petugas Akan Kandangkan Kendaraan Pelanggar 
Mulai 1 Juni 2024 Bandara SSK II Layani Penerbangan Baru Super Air Jet Tujuan Medan
Alhamdulillah! Akhirnya Mendikbudristek Batalkan Kenaikan UKT
Waspadalah! Banyak Bus Pariwisata Tak Berizin Beroperasi di Riau
SSK II Layani 3.372 Jamaah Calon Haji Dalam 23 Penerbangan
PT KPI Unit Dumai Gelar Priority Bin Goes to School di SMKN 5 Dumai
Temukan Bus Pariwisata Tak Berizin Membawa Wisatawan, BPTD Kelas II Riau Tegur Pemilik Kendaraan
Kilang Pertamina Dumai Dorong Transformasi Pemanfaatan Gambut Go Global
Politik
NasDem Usung H Bistamam - Jhony Charles Bertarung di Rokan Hilir 
Final! Untuk Pilwako Pekanbaru, Partai Golkar Mantap Usung Rahmansyah
Usung Program Pekanbaru Menuju Metropolitan, Kordias Mendaftar di Empat Partai
Buka Pendaftaran Calon Kepala Daerah, DPW PKB Riau Terbuka Bagi Siapa Saja
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Mulai 1 Juni 2024 Bandara SSK II Layani Penerbangan Baru Super Air Jet Tujuan Medan
SSK II Layani 3.372 Jamaah Calon Haji Dalam 23 Penerbangan
PT KPI Unit Dumai Gelar Priority Bin Goes to School di SMKN 5 Dumai
Kilang Pertamina Dumai Dorong Transformasi Pemanfaatan Gambut Go Global
Hukum
Hari ini Sidang Perdana Praperadilan Eddy Hiariej Melawan KPK Digelar, Namun KPK Dipastikan Absen
Lima Perwira Polisi Yang Turut Terjerat di Kasus Ferdy Sambo Kembali Ditugaskan Kapolri, Berikut Daftarnya
Polri Akui 'Kebanjiran' Laporan Aduan Fitnah Jelang Pemilu 2024
Kapolri Lakukan Mutasi Besar-besaran Mulai Dari Jabatan Kapolda Hingga Promosi 4 Polwan
Nasional
Menjadi Calon Paskibraka Terpilih Tingkat Pusat, Juara Tilawah MTQ TNI AU Ini Sujud Syukur
Terancam Merugi Pengusaha Ekspedisi Sembako Berharap Tambahan Kapal Roro
Dua Unit Bus Para Wisatawan Tradisi Bakar Tongkang Tak Laik Jalan
Agar Bus Pariwisata Utamakan Keselamatan, Akan Dilakukan Pemeriksaan Tiap Minggu

internasional
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
Desak PBB, UNICEF Tegaskan Jalur Gaza Adalah Tempat Paling Berbahaya di Dunia Bagi Anak-anak
olahraga
Ambil Formulir Pendaftaran, DHL Siap Pimpin AFP Riau 
757 Kepri Jaya Pastikan Diri Lolos Babak 16 Besar Bersama 11 Klub
Lolos ke Babak 32 Besar, Pelatih 757 Kepri Jaya Evaluasi Anak Asuhnya
Soal VAR, Bukan Bermaksud Menggugat...
Soal VAR, Bukan Bermaksud Menggugat...
Rabu, 1 Mei 2024 | 18:53:47 WIB

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
Piala Asia U23
Soal VAR, Bukan Bermaksud Menggugat...
olahraga | Rabu, 1 Mei 2024 | 18:53:47 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Redaksi

JAUH sebelum FIFA memutuskan VAR  diberlakukan pada 2016, banyak terjadi protes atas keputusan-keputusan wasit dalam berbagsi pertandingan sepakbola. Bahkan, tidak jarang karena kecurigaan atas prilaku wasit, kerusuhan besar terjadi.

Secara teori, VAR alias Video Assistant Referee adalah sistem yang berfungsi  membantu wasit untuk 'mendekati keadilan'. Dengan begitu, VAR diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan semua pihak pada kinerja wasit dan dua asisten wasit. Ya, VAR adalah mata ketiga dalam setiap pertandingan.

Pertanyaannya, benarkah VAR bisa mendekati keadilan bagi semua pihak? Jawabnya tentu tidak mudah. Mengapa? Ternyata VAR itu sendiri masih dijalankan oleh seorang asisten wasit. Padahal, jika ide VAR itu untuk mendekati keadilan, harusnya tidak lagi ada wasit atau siapa pun  yang mengoperasikannya.

Secara berseloroh ada pihak yang mengatakan, wasit VAR-lah penentu kemenangan salah satu tim. Ya, ini hanya ungkapan bagi mereka yang timnya secara kasat mata malah dirugikan oleh kinerja VAR itu sendiri. Intinya, tetap manusia yang mengendalikan segalanya. Intinya lagi, patut dapat diduga like and dislaike tetap bisa terjadi.

Ditolak FIFA
Adalah Josepp Blatter, Presiden FIFA 1998-2015, secara tegas menolak program VAR. Saat itu, ada teknisi dari Belanda yang mengajukan alat tersebut, tepatnya 2010 awal.

Blatter mengatakan, sepakbola tidak membutuhkan alat itu. "VAR itu dapat menghilangkan 'ruh' sepakbola, kejujuran dan kebersamaan. "Kalau masih ada orang di balik mesin, tidak ada bedanya dengan cara lama," katanya lagi.

KNVB ( Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) memperkenalkan VAR tahun 2010. Kemudian, mereka memberitahukan pada FIFA, Eredivisie tahun 2012-13 memulai dengan menggunakan VAR. 

VAR, baru benar-benar difungsikan 2016, ketika Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Dunia. Maka, jadilah VAR sebagai alat bantu yang diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan berbagai pihak.

Banyak negara yang hingga hari ini belum juga mau menggunakan VAR. Indonesia sendiri, khususnya Liga-1, baru akan menggunakan VAR tahun mendatang. VAR membutuhkan perangkat yang tidak murah sebelum bisa diterapkan di lapangan.

Sementara, Svenska Fotbollförbundet (Federasi Sepakbola Swedia) secara resmi menyatakan menolak menggunakan alat bantu itu. Hal ini dikarena seluruh klub Allsvenskan (liga kasta tertinggi Swedia) yang 51 persen sahamnya dimiliki oleh suporter. Mereka justru terganggu dengan VAR. Seperti kata Blatter, kejujuran dan kebersaaman atsu ruh sepakbola akan hilang. Di samping itu, karena ada wasit pengendali VAR, maka akan menjadi lebih subyektif.

Tidak Wajar
Terkait dengan hal itu, ada beberapa hal yang menarik terkait VAR di Piala Asia U23, 2023, Qatar. Menariknya, ada tiga kisah yang terkait dengan timnas Indonesia. Tulisan ini sama sekali tidak dalam posisi menggugat, tetapi hanya berbagi pandangan saja.

Untuk itu, siapa saja boleh mendukung dan tentu juga boleh berbeda pendapat. Sepanjang tidak untuk saling menghakimi.

Pertama saat kita melawan Qatar, VAR secara over difungsikan untuk mengubah keputusan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan. Awalnya wasit meniupkan peluit untuk Indonesia, menyusul benturan antara Rizky Ridho dengan Mahdi Sakem, di kotak penalti kita pada menut-41.

Namun wasit yang bertugas di control room VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand, berkomunikasi dengan Kabirov. Sang wasit yang awalnya sudah menunjuk pelanggaran untuk kita, berlari ke sisi lapangan. Udom mengulang-ulang adegan yang seolah-olah Rizky melakukan sikutan. Dan penalti pun terjadi, di menit 45+1, gol 1-0 untuk Qatar. 

Ketika di menit 46, Ivar Jenner dituduh menginjak paha atau lutut bek Qatar, Saifeldeen Hassan, wasit langsung memberi kartu merahkan. Tapi,  saat Witan Sulaiman dihajar Saif Eldeen (56), wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, membiarkan saja.

Gawatnya, wasit VAR Pu-Udom, tenang-tenang saja. Padahal jjka VAR digunakan seperti saat Rizky Ridho, sangat mungkin Jenner terbebas. Wong jelas tidak ada sentuhan apapun, meski Saifeldeen memgerang dan berguling. Malah jika Kabirov jujur, pemain Qatar yang akan terkena karena melakukan diving (tipuan).

Kedua, ketika Garuda Muda menghadapi Korsel. Di menit ke-8, wasit Shaun Evans (Australia) menganulir gol Lee Kang Hee, setelah berkomunikasi dengan wasit VAR, dan meneliti tayangan televisi.

Hasilnya, gol untuk Korsel dianulir. Dari tayangan VAR, salah seorang pemain Korsel  berada dalam 'kotak' yang ditampilkan. Artinya, VAR secara tegas menunjukkan posisi pemain Korsel memang kakinya berada lebih di depan dari pemain belakang kita, offside.

Sementara saat gol Muhammad Ferrari ke gawang Uzbekistan, juga dianulir oleh wasit Shen Yin Hao dari Cina juga melalui komunikasi dengan wasit VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand. Bedanya, Pu-Dom sama sekali tidak menampil kotak atau garis VAR seperti seharusnya.

Bahkan jika kita  cermati, ada dua kamera yang beroperasi. Kamera 3 (sejajar dengan pemain, dan diambil dari arah Selatan ke Utara),  sama sekali tidak terlihat ada kaki kanan Sananta. Tapi, jika yang digunakan kamera 4, juga dari arah sama, namun posisi kamera antara pemain dan gawang, maka teelihatlah kaki Sananta.

Rekaman dari kamera-4 yang terus-menerus ditampilkan, hingga akhirnya wasit dari China itu tak ragu untuk menganulir. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menggugat keputusan wasit, saya hanya membandingkan apa yang dilakukan wasit VAR saat gol Lee Kang Hee, dianulir dengan gol Ferrari.

Secara teori, jika garis atau kotak VAR tidak digunakan, maka posisi yang harusnya bisa dinilai mendekati 99 persen, pasti ambyar. Pertanyaannya, mengapa Pu-Udom tidak menggunakannya dan mengapa bukan dari kamera tiga yang sejajar adegan para pemain Sananta itu diulang-ulang?

Jadi, saya sependapat dengan Blatter yang mengatakan, sepanjang alat VAR masih dioperasikan oleh manusia, maka harapan untuk mendekati keadilan, tetap tak bisa diharapkan bisa berjalan dengan benar. Jika begitu, untuk apa VAR? Saya pun angkat topi untuk Federasi Sepakbola Swedia yang secara tegas menolak VAR.

Semoga laga melawan Irak atau negara lain, di event mana pun, kita tidak dirugikan oleh VAR, juga jangan sampai kita menang karena alat itu.***

M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior

TERKINI

Partai NasDem memberikan kejutan, tepat hari ini 9 Juli 2024, DPP Partai NasDem melalui Bapilu.

Selasa, 9 Juli 2024 | 14:30:33 WIB
Jajaran BPTD Kelas II Riau terus memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat terkait bus.
Senin, 8 Juli 2024 | 12:57:40 WIB
Petugas gabungan memberi sanksi kepada 52 kendaraan yang diduga ODOL, dalam Operasi Penegakan Hukum.
Jumat, 5 Juli 2024 | 07:48:55 WIB

Mendapat kejutan berupa kerajinan tangan karya penghuni Panti Tresna Werdha, rombongan Dharma.

Kamis, 27 Juni 2024 | 15:45:11 WIB

Siswa Kelas XI MAN 2 Model Pekanbaru ini bernama lengkap Muhammad Radoslaw Larre Prawiro,.

Rabu, 26 Juni 2024 | 20:55:26 WIB