
JAUH sebelum FIFA memutuskan VAR diberlakukan pada 2016, banyak terjadi protes atas keputusan-keputusan wasit dalam berbagsi pertandingan sepakbola. Bahkan, tidak jarang karena kecurigaan atas prilaku wasit, kerusuhan besar terjadi.
Secara teori, VAR alias Video Assistant Referee adalah sistem yang berfungsi membantu wasit untuk 'mendekati keadilan'. Dengan begitu, VAR diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan semua pihak pada kinerja wasit dan dua asisten wasit. Ya, VAR adalah mata ketiga dalam setiap pertandingan.
Pertanyaannya, benarkah VAR bisa mendekati keadilan bagi semua pihak? Jawabnya tentu tidak mudah. Mengapa? Ternyata VAR itu sendiri masih dijalankan oleh seorang asisten wasit. Padahal, jika ide VAR itu untuk mendekati keadilan, harusnya tidak lagi ada wasit atau siapa pun yang mengoperasikannya.
Secara berseloroh ada pihak yang mengatakan, wasit VAR-lah penentu kemenangan salah satu tim. Ya, ini hanya ungkapan bagi mereka yang timnya secara kasat mata malah dirugikan oleh kinerja VAR itu sendiri. Intinya, tetap manusia yang mengendalikan segalanya. Intinya lagi, patut dapat diduga like and dislaike tetap bisa terjadi.
Ditolak FIFA
Adalah Josepp Blatter, Presiden FIFA 1998-2015, secara tegas menolak program VAR. Saat itu, ada teknisi dari Belanda yang mengajukan alat tersebut, tepatnya 2010 awal.
Blatter mengatakan, sepakbola tidak membutuhkan alat itu. "VAR itu dapat menghilangkan 'ruh' sepakbola, kejujuran dan kebersamaan. "Kalau masih ada orang di balik mesin, tidak ada bedanya dengan cara lama," katanya lagi.
KNVB ( Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) memperkenalkan VAR tahun 2010. Kemudian, mereka memberitahukan pada FIFA, Eredivisie tahun 2012-13 memulai dengan menggunakan VAR.
VAR, baru benar-benar difungsikan 2016, ketika Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Dunia. Maka, jadilah VAR sebagai alat bantu yang diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan berbagai pihak.
Banyak negara yang hingga hari ini belum juga mau menggunakan VAR. Indonesia sendiri, khususnya Liga-1, baru akan menggunakan VAR tahun mendatang. VAR membutuhkan perangkat yang tidak murah sebelum bisa diterapkan di lapangan.
Sementara, Svenska Fotbollförbundet (Federasi Sepakbola Swedia) secara resmi menyatakan menolak menggunakan alat bantu itu. Hal ini dikarena seluruh klub Allsvenskan (liga kasta tertinggi Swedia) yang 51 persen sahamnya dimiliki oleh suporter. Mereka justru terganggu dengan VAR. Seperti kata Blatter, kejujuran dan kebersaaman atsu ruh sepakbola akan hilang. Di samping itu, karena ada wasit pengendali VAR, maka akan menjadi lebih subyektif.
Tidak Wajar
Terkait dengan hal itu, ada beberapa hal yang menarik terkait VAR di Piala Asia U23, 2023, Qatar. Menariknya, ada tiga kisah yang terkait dengan timnas Indonesia. Tulisan ini sama sekali tidak dalam posisi menggugat, tetapi hanya berbagi pandangan saja.
Untuk itu, siapa saja boleh mendukung dan tentu juga boleh berbeda pendapat. Sepanjang tidak untuk saling menghakimi.
Pertama saat kita melawan Qatar, VAR secara over difungsikan untuk mengubah keputusan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan. Awalnya wasit meniupkan peluit untuk Indonesia, menyusul benturan antara Rizky Ridho dengan Mahdi Sakem, di kotak penalti kita pada menut-41.
Namun wasit yang bertugas di control room VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand, berkomunikasi dengan Kabirov. Sang wasit yang awalnya sudah menunjuk pelanggaran untuk kita, berlari ke sisi lapangan. Udom mengulang-ulang adegan yang seolah-olah Rizky melakukan sikutan. Dan penalti pun terjadi, di menit 45+1, gol 1-0 untuk Qatar.
Ketika di menit 46, Ivar Jenner dituduh menginjak paha atau lutut bek Qatar, Saifeldeen Hassan, wasit langsung memberi kartu merahkan. Tapi, saat Witan Sulaiman dihajar Saif Eldeen (56), wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, membiarkan saja.
Gawatnya, wasit VAR Pu-Udom, tenang-tenang saja. Padahal jjka VAR digunakan seperti saat Rizky Ridho, sangat mungkin Jenner terbebas. Wong jelas tidak ada sentuhan apapun, meski Saifeldeen memgerang dan berguling. Malah jika Kabirov jujur, pemain Qatar yang akan terkena karena melakukan diving (tipuan).
Kedua, ketika Garuda Muda menghadapi Korsel. Di menit ke-8, wasit Shaun Evans (Australia) menganulir gol Lee Kang Hee, setelah berkomunikasi dengan wasit VAR, dan meneliti tayangan televisi.
Hasilnya, gol untuk Korsel dianulir. Dari tayangan VAR, salah seorang pemain Korsel berada dalam 'kotak' yang ditampilkan. Artinya, VAR secara tegas menunjukkan posisi pemain Korsel memang kakinya berada lebih di depan dari pemain belakang kita, offside.
Sementara saat gol Muhammad Ferrari ke gawang Uzbekistan, juga dianulir oleh wasit Shen Yin Hao dari Cina juga melalui komunikasi dengan wasit VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand. Bedanya, Pu-Dom sama sekali tidak menampil kotak atau garis VAR seperti seharusnya.
Bahkan jika kita cermati, ada dua kamera yang beroperasi. Kamera 3 (sejajar dengan pemain, dan diambil dari arah Selatan ke Utara), sama sekali tidak terlihat ada kaki kanan Sananta. Tapi, jika yang digunakan kamera 4, juga dari arah sama, namun posisi kamera antara pemain dan gawang, maka teelihatlah kaki Sananta.
Rekaman dari kamera-4 yang terus-menerus ditampilkan, hingga akhirnya wasit dari China itu tak ragu untuk menganulir. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menggugat keputusan wasit, saya hanya membandingkan apa yang dilakukan wasit VAR saat gol Lee Kang Hee, dianulir dengan gol Ferrari.
Secara teori, jika garis atau kotak VAR tidak digunakan, maka posisi yang harusnya bisa dinilai mendekati 99 persen, pasti ambyar. Pertanyaannya, mengapa Pu-Udom tidak menggunakannya dan mengapa bukan dari kamera tiga yang sejajar adegan para pemain Sananta itu diulang-ulang?
Jadi, saya sependapat dengan Blatter yang mengatakan, sepanjang alat VAR masih dioperasikan oleh manusia, maka harapan untuk mendekati keadilan, tetap tak bisa diharapkan bisa berjalan dengan benar. Jika begitu, untuk apa VAR? Saya pun angkat topi untuk Federasi Sepakbola Swedia yang secara tegas menolak VAR.
Semoga laga melawan Irak atau negara lain, di event mana pun, kita tidak dirugikan oleh VAR, juga jangan sampai kita menang karena alat itu.***
M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat Rabu, 28 Januari 2026 | 13:35:00 WIB |
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan. Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB |
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum Selasa, 27 Januari 2026 | 11:58:49 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI Jumat, 23 Januari 2026 | 16:00:00 WIB |
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh Senin, 19 Januari 2026 | 06:11:00 WIB |
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB |
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:31:52 WIB |
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:36:26 WIB |
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Apresiasi Sinergi dan Pastikan Energi Tetap Mengalir Kamis, 15 Januari 2026 | 20:09:21 WIB |
Kebersamaan Warga RW 06 Air Putih, Kebahagiaan Tersendiri Bagi Afriani dan Aulia Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:50:47 WIB |
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB |
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa Sabtu, 20 Desember 2025 | 09:05:00 WIB |
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru Senin, 1 Desember 2025 | 13:25:00 WIB |
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru Terima Kunjungan Satpolairud Polres Pelalawan Rabu, 22 Oktober 2025 | 06:05:55 WIB |
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi? Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:56:59 WIB |
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih Kamis, 8 Januari 2026 | 09:45:58 WIB |
Booth UMKM Lokal Binaan Kilang Pertamina Dumai Bukukan Penjualan Hampir Rp 70 Juta Selasa, 6 Januari 2026 | 11:56:00 WIB |
Optimal Jaga Ketahanan Energi Selama Periode Nataru 2026, Kilang Pertamina Dumai Terima Kunjungan Anggota Komite BPH Migas Senin, 5 Januari 2026 | 07:59:00 WIB |
MWT Malam Tahun Baru, Kilang Pertamina Dumai Pastikan Kilang Beroperasi Optimal untuk Jaga Ketersediaan Energi Kamis, 1 Januari 2026 | 14:46:00 WIB |
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa Sabtu, 20 Desember 2025 | 09:05:00 WIB |
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau Senin, 15 Desember 2025 | 08:50:20 WIB |
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal Selasa, 2 Desember 2025 | 11:40:04 WIB |
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru Senin, 1 Desember 2025 | 13:25:00 WIB |
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI Kamis, 20 November 2025 | 11:00:47 WIB |
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau Senin, 3 November 2025 | 13:31:11 WIB |
Anggota DPR RI Karmila Sari Usul Dana BOSDA Biayai Cabor di Sekolah dan Penataan Aset PON Riau Rabu, 1 Oktober 2025 | 10:34:39 WIB |
Parisman Ihwan Mulai Goyah, Dua Statement Berbeda di Dua Media Selasa, 5 Agustus 2025 | 11:20:40 WIB |
Kader PDIP Solid Dukung Pemerintahan Prabowo Perintah Megawati Jumat, 1 Agustus 2025 | 15:43:16 WIB |
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum Selasa, 27 Januari 2026 | 11:58:49 WIB |
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI Jumat, 23 Januari 2026 | 16:00:00 WIB |
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh Senin, 19 Januari 2026 | 06:11:00 WIB |
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara Sabtu, 17 Januari 2026 | 08:36:26 WIB |
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:31:52 WIB |
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih Kamis, 8 Januari 2026 | 09:45:58 WIB |
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal Selasa, 2 Desember 2025 | 11:40:04 WIB |
Gubernur LIRA Minta Semua Pihak Menghormati Proses Hukum Yang Dijalani Abdul Wahid Rabu, 12 November 2025 | 12:39:47 WIB |
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI Kamis, 20 November 2025 | 11:00:47 WIB |
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB |
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR Jumat, 17 Oktober 2025 | 19:06:54 WIB |
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin Kamis, 21 Agustus 2025 | 10:45:44 WIB |
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin Kamis, 21 Agustus 2025 | 10:45:44 WIB |
16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya Rabu, 6 Desember 2023 | 10:26:13 WIB |
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas Senin, 4 Desember 2023 | 09:44:39 WIB |
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB |
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau Senin, 15 Desember 2025 | 08:50:20 WIB |
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain Selasa, 14 Oktober 2025 | 16:57:00 WIB |
PSPS Akan DIlatih Caretaker, Sampai Pengganti Ilham Datang Rabu, 1 Oktober 2025 | 09:23:01 WIB |
Didukung Anggota DPR RI Karmila Sari, Festival Pacu Sampan Tradisional di Rumbai Jadi Wisata dan Ekonomi Daerah Senin, 29 September 2025 | 15:46:39 WIB |

JAUH sebelum FIFA memutuskan VAR diberlakukan pada 2016, banyak terjadi protes atas keputusan-keputusan wasit dalam berbagsi pertandingan sepakbola. Bahkan, tidak jarang karena kecurigaan atas prilaku wasit, kerusuhan besar terjadi.
Secara teori, VAR alias Video Assistant Referee adalah sistem yang berfungsi membantu wasit untuk 'mendekati keadilan'. Dengan begitu, VAR diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan semua pihak pada kinerja wasit dan dua asisten wasit. Ya, VAR adalah mata ketiga dalam setiap pertandingan.
Pertanyaannya, benarkah VAR bisa mendekati keadilan bagi semua pihak? Jawabnya tentu tidak mudah. Mengapa? Ternyata VAR itu sendiri masih dijalankan oleh seorang asisten wasit. Padahal, jika ide VAR itu untuk mendekati keadilan, harusnya tidak lagi ada wasit atau siapa pun yang mengoperasikannya.
Secara berseloroh ada pihak yang mengatakan, wasit VAR-lah penentu kemenangan salah satu tim. Ya, ini hanya ungkapan bagi mereka yang timnya secara kasat mata malah dirugikan oleh kinerja VAR itu sendiri. Intinya, tetap manusia yang mengendalikan segalanya. Intinya lagi, patut dapat diduga like and dislaike tetap bisa terjadi.
Ditolak FIFA
Adalah Josepp Blatter, Presiden FIFA 1998-2015, secara tegas menolak program VAR. Saat itu, ada teknisi dari Belanda yang mengajukan alat tersebut, tepatnya 2010 awal.
Blatter mengatakan, sepakbola tidak membutuhkan alat itu. "VAR itu dapat menghilangkan 'ruh' sepakbola, kejujuran dan kebersamaan. "Kalau masih ada orang di balik mesin, tidak ada bedanya dengan cara lama," katanya lagi.
KNVB ( Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) memperkenalkan VAR tahun 2010. Kemudian, mereka memberitahukan pada FIFA, Eredivisie tahun 2012-13 memulai dengan menggunakan VAR.
VAR, baru benar-benar difungsikan 2016, ketika Gianni Infantino terpilih sebagai Presiden Federasi Sepakbola Dunia. Maka, jadilah VAR sebagai alat bantu yang diharapkan bisa mengurangi ketidakpuasan berbagai pihak.
Banyak negara yang hingga hari ini belum juga mau menggunakan VAR. Indonesia sendiri, khususnya Liga-1, baru akan menggunakan VAR tahun mendatang. VAR membutuhkan perangkat yang tidak murah sebelum bisa diterapkan di lapangan.
Sementara, Svenska Fotbollförbundet (Federasi Sepakbola Swedia) secara resmi menyatakan menolak menggunakan alat bantu itu. Hal ini dikarena seluruh klub Allsvenskan (liga kasta tertinggi Swedia) yang 51 persen sahamnya dimiliki oleh suporter. Mereka justru terganggu dengan VAR. Seperti kata Blatter, kejujuran dan kebersaaman atsu ruh sepakbola akan hilang. Di samping itu, karena ada wasit pengendali VAR, maka akan menjadi lebih subyektif.
Tidak Wajar
Terkait dengan hal itu, ada beberapa hal yang menarik terkait VAR di Piala Asia U23, 2023, Qatar. Menariknya, ada tiga kisah yang terkait dengan timnas Indonesia. Tulisan ini sama sekali tidak dalam posisi menggugat, tetapi hanya berbagi pandangan saja.
Untuk itu, siapa saja boleh mendukung dan tentu juga boleh berbeda pendapat. Sepanjang tidak untuk saling menghakimi.
Pertama saat kita melawan Qatar, VAR secara over difungsikan untuk mengubah keputusan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan. Awalnya wasit meniupkan peluit untuk Indonesia, menyusul benturan antara Rizky Ridho dengan Mahdi Sakem, di kotak penalti kita pada menut-41.
Namun wasit yang bertugas di control room VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand, berkomunikasi dengan Kabirov. Sang wasit yang awalnya sudah menunjuk pelanggaran untuk kita, berlari ke sisi lapangan. Udom mengulang-ulang adegan yang seolah-olah Rizky melakukan sikutan. Dan penalti pun terjadi, di menit 45+1, gol 1-0 untuk Qatar.
Ketika di menit 46, Ivar Jenner dituduh menginjak paha atau lutut bek Qatar, Saifeldeen Hassan, wasit langsung memberi kartu merahkan. Tapi, saat Witan Sulaiman dihajar Saif Eldeen (56), wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan, membiarkan saja.
Gawatnya, wasit VAR Pu-Udom, tenang-tenang saja. Padahal jjka VAR digunakan seperti saat Rizky Ridho, sangat mungkin Jenner terbebas. Wong jelas tidak ada sentuhan apapun, meski Saifeldeen memgerang dan berguling. Malah jika Kabirov jujur, pemain Qatar yang akan terkena karena melakukan diving (tipuan).
Kedua, ketika Garuda Muda menghadapi Korsel. Di menit ke-8, wasit Shaun Evans (Australia) menganulir gol Lee Kang Hee, setelah berkomunikasi dengan wasit VAR, dan meneliti tayangan televisi.
Hasilnya, gol untuk Korsel dianulir. Dari tayangan VAR, salah seorang pemain Korsel berada dalam 'kotak' yang ditampilkan. Artinya, VAR secara tegas menunjukkan posisi pemain Korsel memang kakinya berada lebih di depan dari pemain belakang kita, offside.
Sementara saat gol Muhammad Ferrari ke gawang Uzbekistan, juga dianulir oleh wasit Shen Yin Hao dari Cina juga melalui komunikasi dengan wasit VAR, Sivakorn Pu-Udom asal Thailand. Bedanya, Pu-Dom sama sekali tidak menampil kotak atau garis VAR seperti seharusnya.
Bahkan jika kita cermati, ada dua kamera yang beroperasi. Kamera 3 (sejajar dengan pemain, dan diambil dari arah Selatan ke Utara), sama sekali tidak terlihat ada kaki kanan Sananta. Tapi, jika yang digunakan kamera 4, juga dari arah sama, namun posisi kamera antara pemain dan gawang, maka teelihatlah kaki Sananta.
Rekaman dari kamera-4 yang terus-menerus ditampilkan, hingga akhirnya wasit dari China itu tak ragu untuk menganulir. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menggugat keputusan wasit, saya hanya membandingkan apa yang dilakukan wasit VAR saat gol Lee Kang Hee, dianulir dengan gol Ferrari.
Secara teori, jika garis atau kotak VAR tidak digunakan, maka posisi yang harusnya bisa dinilai mendekati 99 persen, pasti ambyar. Pertanyaannya, mengapa Pu-Udom tidak menggunakannya dan mengapa bukan dari kamera tiga yang sejajar adegan para pemain Sananta itu diulang-ulang?
Jadi, saya sependapat dengan Blatter yang mengatakan, sepanjang alat VAR masih dioperasikan oleh manusia, maka harapan untuk mendekati keadilan, tetap tak bisa diharapkan bisa berjalan dengan benar. Jika begitu, untuk apa VAR? Saya pun angkat topi untuk Federasi Sepakbola Swedia yang secara tegas menolak VAR.
Semoga laga melawan Irak atau negara lain, di event mana pun, kita tidak dirugikan oleh VAR, juga jangan sampai kita menang karena alat itu.***
M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
Anggota Komisi X DPR RI Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, menegaskan dukungannya terhadap program.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pertamina Patra Niaga Sumbagut dalam.
Secara umum, pasokan BBM di provinsi tersebut dalam keadaan aman dan untuk wilayah terdampak,.
| Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat | Rapat Paripurna Pelantikan Pimpinan DPRD Kota Pekanbaru Periode 2024-2029 |