6 Rabiul Awwal 1448 H | Kamis, 20 Agustus 2026
×
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
opini | Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Ramadia

PADA pertengahan abad ke 8, Dinasti Tang berdiri sebagai symbol kekuasaan yang utuh dan makmur. Wilayah luas, jalur dagang hidup dan Kota Chang’an menjadi simpul peradaban dunia Timur. Negara berjalan dengan kemajuan. Pemerintahan bekerja dalam satu keselarasan.

Sejarah tidak mencatat keruntuhan sebagai bunyi keras yang tiba-tiba. Keruntuhan sering hadir sebagai sunyi yang panjang.

An Lushan adalah Panglima perang yang tumbuh dari perbatasan. Bukan besar dari bagian elite di pusat kekuasaan, melainkan perwira yang terlatih dimedan perang dan pandai membaca situasi. Kesetiaannya dan kecakapannya diandalkan. Kekaisaran memberinya wilayah strategis, pasukan besar dan ruang gerak luas. Perbatasan aman, kekaisaran merasa tenang. Dianggap sebagai keluarga Kaisar Xuanzong..

Perlahan kepercayaan yang diberikan berganti dengan pengawasan. Orang yang diberikan kepercayaan penuh, mulai di intai dan disusupi, jangan - jangan akan melakukan kudeta dan gerakan senyap.

Ketika pemberontakan An Lushan pecah, Dinasti Tang tidak runtuh seketika. Yang terjadi adalah perang panjang yang menguras.  Jalur perdagangan terputus. Kebun dan sawah terbengkalai. Kota-kota kehilangan penduduk. 

Negara masih berdiri, tetapi mesin kehidupan makin melemah. Produksi menurun, pajak berkurang, dan birokrasi bekerja dalam tekanan dan ketakutan. Dampaknya bukan hanya pada militer. Aparatur sipil kehilangan kepastian. 

Mereka harus memilih bertahan atau menyelamatkan diri. Administrasi tersendat, bukan karena aturan hilang, tetapi karena kepercayaan yang saling curiga. Pembangunan berhenti bukan karena gagasan tak ada, melainkan karena tangan-tangan yang menjalankan tak lagi bergerak seirama. 

Sejarah mencatat, pemberontakan An Lushan adalah salah satu tragedi Demografis terbesar dalam sejarah.

An Lushan sendiri berakhir tragis. Kekuasaan yang dibangun tanpa keselarasan runtuh dari dalam. Ia justru mati terbunuh oleh orang terdekatnya. Lingkar dalam yang dulu menopang ambisi berubah menjadi sumber ketakutan.

Dinasti Tang bertahan setelah itu, tetapi tidak pernah kembali pulih. Negara masih bernama Tang, tetapi kekuasaannya pelan perlahan mulai runtuh. Dalam istilah Jared Diamond, inilah penyusutan, bukan lenyap, tetapi kehilangan kemampuan mengelola kompleksitas.

Kisah Romawi Barat, runtuh karena perebutan kekuasaan. Perang Paregreg, menjadi mula kehancuran Majapahit, kerajaan besar di Nusantara. 

Ditangkapnya Presiden Venezuela di tempat tidurnya sendiri oleh Pasukan Amerika, tidak terlepas dari pengkhianatan orang - orang dekatnya yang merasa diabaikan dan dibiarkan.

"Kerajaan Besar" tulis Ibn Kaldun "Tidak tumbang karena serangan besar, tetapi karena solidaritas yang rapuh". Ia menyebut sebagian melemahnya "Ashabiyyah". Kesadaran  kolektif yang menjadi perekat utama sebuah kekuasaan.

Pola serupa kerap muncul dalam skala yang lebih kecil di zaman sekarang.
Hubungan antara gubernur dan wakilnya, bupati dan wakilnya, wali kota dan wakilnya, sering dimulai dengan janji kebersamaan. Mereka dipilih sebagai satu paket, membawa harapan kesinambungan. Namun ketika keselarasan itu retak, dampaknya tidak berhenti pada elite politik.
Di tingkat birokrasi, ketegangan segera terasa. Aparatur mulai membaca isyarat, bukan instruksi. Loyalitas terbelah, bukan karena niat buruk, melainkan karena ketidakpastian. Program yang seharusnya berjalan cepat menjadi tertahan. Keputusan menunggu arah yang lebih jelas. Roda administrasi tetap berputar, tetapi berputar makin pelan 

Sistem kerja berubah tanpa disadari. Koordinasi antar perangkat daerah menjadi kaku. Rapat lebih sering membahas kehati-hatian daripada terobosan. Inisiatif personal berkurang, sebab risiko politik terasa lebih besar daripada manfaat kerja. Dalam keadaan seperti ini, pembangunan tidak runtuh, tetapi kehilangan momentum.

Masyarakat jarang melihat konflik itu secara langsung. Yang terasa adalah pelayanan yang melambat, proyek yang tertunda, dan arah pembangunan yang seperti ragu melangkah. Bukan karena kemampuan aparatur menurun, tetapi karena keselarasan kekuasaan tidak lagi utuh.

Ibn Khaldun pernah mengingatkan bahwa kekuasaan bertahan selama ikatan di antara pemegangnya tetap kuat. Ketika ikatan itu melemah, negara masih berdiri, tetapi tenaganya berkurang.

Sun Tzu, dengan bahasa yang lebih singkat, menulis bahwa pasukan yang tidak seirama akan kalah sebelum bertempur. Dalam pemerintahan, kekalahan itu bukan selalu berbentuk runtuhnya kekuasaan, melainkan hilangnya kecepatan, ketepatan, dan daya dorong pembangunan.

Kisah An Lushan memberi pelajaran yang sunyi namun dalam pemaknaan. Bahwa kekuasaan, dari kekaisaran besar hingga pemerintahan daerah, tidak cukup dijaga oleh aturan dan jabatan. Ia hidup dari keselarasan. Ketika keselarasan itu retak, dampaknya merambat ke mana-mana. Birokrasi, sistem kerja, hingga ke pembangunan yang seharusnya menjadi tujuan bersama.

Joseph Nye pernah menyinggung bahwa kekuasaan bukan sekadar kemampuan memerintah, tetapi kemampuan membangun hubungan kepercayaan yang memudahkan pelaksanaan keputusan. Sementara Max Weber menegaskan bahwa legitimasi pemerintahan tidak hanya dihasilkan jabatan formal tetapi dari stabilitas kepercayaan internal. Pareto mengingatkan bahwa ketika elite tidak lagi satu suara, ketika ada bagian dari lingkar dalam yang tersisih, maka "sirkulasi elite" akan terjadi, yakni pergantian kekuasaan yang sering kali berlangsung dengan wajah kekerasan.

Sejak ribuan tahun hingga hari ini, sejarah selalu mengulang pola yang sama, yang menjatuhkan sebuah kekuasaan bukanlah orang jauh, tetapi mereka yang dulu paling dekat. Kekuasaan runtuh bukan datang dari luar, tetapi keretakan dari dalam rumah yang dibiarkan tak terjaga.

Sejarah tidak datang dengan menghakimi, ia hadir untuk bercerita. Dan dari cerita itu, seakan terdengar sebagai pesan yang berulang dari masa ke masa, selama rumah dijaga, perjalanan masih bisa dilanjutkan, tetapi ketika rumah sendiri renggang, langkah akan selalu terasa berat, sejauh apa pun ingin melangkah.***

Oleh Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik


 

Index
DPP BKPRMI Buka Seleksi BKPRMI Award 2026
DPP BKPRMI Buka Seleksi BKPRMI Award 2026
Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:20:00 WIB
Belanja maksimal 17 Liter, Dapatkan Diskon Rp450 per Liter di SPBU, Minimal Transaksi Rp17.000
Giliran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Hadiahi Empat Penghargaan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Apresiasi Pelanggan Setia MyPertamina Lewat Aktivasi Menarik di SPBU 
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Promo Bright Gas Semarak Merdeka
Patra Niaga Sumbagut Pastikan Kondisi SPBU Pelalawan Terkendali dan Pelayanan BBM Tetap Terjaga di SPBU Sekitar
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Semarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia Melalui MyPertamina Berbagi Hadiah Kemerdekaan di 24 SPBU
Patra Niaga Sumbagut Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis Bagi Masyarakat Terdampak
DPW BKPRMI Riau Gelar GEBER MAS Gelombang I, Dapat Apresiasi Kemenag dan Masyarakat
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Raih Predikat Platinum TSJL & CSR Award 2026, Bukti Nyata Komitmen Keberlanjutan
Snow Snow
Snow Snow


daerah
DPW BKPRMI Riau Gelar GEBER MAS Gelombang I, Dapat Apresiasi Kemenag dan Masyarakat
Perpustakaan Soeman HS Masih Menjadi Pilihan Favorit Mahasiswa Selama Ramadhan
Pimpin Konsolidasi Perdana DPP IPP, Muflihun Tegaskan Komitmen dan Program Strategis untuk Pekanbaru
Kukuhkan Muflihun Sebagai Ketua Umum, Plt Gubri Tegaskan Ikatan Putera Pekanbaru Mitra Strategis Pembangunan
Index
Komitmen Nyata Kontribusi untuk Masyarakat Patra Niaga Sumbagut Sabet 7 Penghargaan ISRA 2026
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Optimalkan Penyaluran BBM, Penuhi Kebutuhan Masyarakat Riau
Gerak Cepat Patra Niaga Sumbagut Salurkan Bantuan Masyarakat Terdampak Bencana Banjir di Padang
Kembangkan Pisang Cavendis di Pulau Birandang, Bupati Ahmad Yuzar Apresiasi Inisiatif Jefri Noer
Pastikan Keandalan Layanan SPBU Bersama Komisaris dan Direksi Pertamina Patra Niaga
Umpan Serak Gaya Ali Riza Pahlevi Kandidat Dirut Jamkrida Riau
Patra Niaga Sumbagut Pastikan Pasokan BBM Tetap Terjaga di Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau
Mulai 14 Juli 2026, Patra Niaga Lakukan Penyesuaian Harga Bright Gas di Regional Sumbagut
Perkuat Edukasi Lingkungan Melalui Program SEKAR di Kawasan Pesisir Medan
Distribusi BBM di Sumatera Utara Semakin Membaik, Patra Niaga Pastikan Pasokan Aman
Politik
Jaring Aspirasi Warga RW 11, Hamdani Diminta Perjuangkan Pencegahan Banjir di Jalan Puyuh Mas
Remaja Bernegara NasDem 2026 Dibuka, Latih Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda 
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Belanja maksimal 17 Liter, Dapatkan Diskon Rp450 per Liter di SPBU, Minimal Transaksi Rp17.000
Giliran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Hadiahi Empat Penghargaan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Apresiasi Pelanggan Setia MyPertamina Lewat Aktivasi Menarik di SPBU 
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Promo Bright Gas Semarak Merdeka
Hukum
Marwas: Suruh Aja Orang Agrinas Tu Panggil CV Tiga Bintang Sinergi
Ketika di Klarifikasi, Pimpinan BRI Yang Bersangkutan Justru Telah Dimutasi ke Wilayah Lain
Pengucuran Kredit Bank BRI Ke Kelompok Tani di Pelalawan Sarat Kejanggalan
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
Nasional
DPP BKPRMI Buka Seleksi BKPRMI Award 2026
DPP BKPRMI Buka Seleksi BKPRMI Award 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:20:00 WIB
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Batalkan Musorprov, KONI Pusat Perpanjang Masa Jabatan Pengurus KONI Riau hingga September 2026
Tiga Anggota TPP Labrak Aturan dan Arahan KONI Pusat, Fahmi: Tindakan Mereka Ilegal!!!
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
opini | Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Ramadia

PADA pertengahan abad ke 8, Dinasti Tang berdiri sebagai symbol kekuasaan yang utuh dan makmur. Wilayah luas, jalur dagang hidup dan Kota Chang’an menjadi simpul peradaban dunia Timur. Negara berjalan dengan kemajuan. Pemerintahan bekerja dalam satu keselarasan.

Sejarah tidak mencatat keruntuhan sebagai bunyi keras yang tiba-tiba. Keruntuhan sering hadir sebagai sunyi yang panjang.

An Lushan adalah Panglima perang yang tumbuh dari perbatasan. Bukan besar dari bagian elite di pusat kekuasaan, melainkan perwira yang terlatih dimedan perang dan pandai membaca situasi. Kesetiaannya dan kecakapannya diandalkan. Kekaisaran memberinya wilayah strategis, pasukan besar dan ruang gerak luas. Perbatasan aman, kekaisaran merasa tenang. Dianggap sebagai keluarga Kaisar Xuanzong..

Perlahan kepercayaan yang diberikan berganti dengan pengawasan. Orang yang diberikan kepercayaan penuh, mulai di intai dan disusupi, jangan - jangan akan melakukan kudeta dan gerakan senyap.

Ketika pemberontakan An Lushan pecah, Dinasti Tang tidak runtuh seketika. Yang terjadi adalah perang panjang yang menguras.  Jalur perdagangan terputus. Kebun dan sawah terbengkalai. Kota-kota kehilangan penduduk. 

Negara masih berdiri, tetapi mesin kehidupan makin melemah. Produksi menurun, pajak berkurang, dan birokrasi bekerja dalam tekanan dan ketakutan. Dampaknya bukan hanya pada militer. Aparatur sipil kehilangan kepastian. 

Mereka harus memilih bertahan atau menyelamatkan diri. Administrasi tersendat, bukan karena aturan hilang, tetapi karena kepercayaan yang saling curiga. Pembangunan berhenti bukan karena gagasan tak ada, melainkan karena tangan-tangan yang menjalankan tak lagi bergerak seirama. 

Sejarah mencatat, pemberontakan An Lushan adalah salah satu tragedi Demografis terbesar dalam sejarah.

An Lushan sendiri berakhir tragis. Kekuasaan yang dibangun tanpa keselarasan runtuh dari dalam. Ia justru mati terbunuh oleh orang terdekatnya. Lingkar dalam yang dulu menopang ambisi berubah menjadi sumber ketakutan.

Dinasti Tang bertahan setelah itu, tetapi tidak pernah kembali pulih. Negara masih bernama Tang, tetapi kekuasaannya pelan perlahan mulai runtuh. Dalam istilah Jared Diamond, inilah penyusutan, bukan lenyap, tetapi kehilangan kemampuan mengelola kompleksitas.

Kisah Romawi Barat, runtuh karena perebutan kekuasaan. Perang Paregreg, menjadi mula kehancuran Majapahit, kerajaan besar di Nusantara. 

Ditangkapnya Presiden Venezuela di tempat tidurnya sendiri oleh Pasukan Amerika, tidak terlepas dari pengkhianatan orang - orang dekatnya yang merasa diabaikan dan dibiarkan.

"Kerajaan Besar" tulis Ibn Kaldun "Tidak tumbang karena serangan besar, tetapi karena solidaritas yang rapuh". Ia menyebut sebagian melemahnya "Ashabiyyah". Kesadaran  kolektif yang menjadi perekat utama sebuah kekuasaan.

Pola serupa kerap muncul dalam skala yang lebih kecil di zaman sekarang.
Hubungan antara gubernur dan wakilnya, bupati dan wakilnya, wali kota dan wakilnya, sering dimulai dengan janji kebersamaan. Mereka dipilih sebagai satu paket, membawa harapan kesinambungan. Namun ketika keselarasan itu retak, dampaknya tidak berhenti pada elite politik.
Di tingkat birokrasi, ketegangan segera terasa. Aparatur mulai membaca isyarat, bukan instruksi. Loyalitas terbelah, bukan karena niat buruk, melainkan karena ketidakpastian. Program yang seharusnya berjalan cepat menjadi tertahan. Keputusan menunggu arah yang lebih jelas. Roda administrasi tetap berputar, tetapi berputar makin pelan 

Sistem kerja berubah tanpa disadari. Koordinasi antar perangkat daerah menjadi kaku. Rapat lebih sering membahas kehati-hatian daripada terobosan. Inisiatif personal berkurang, sebab risiko politik terasa lebih besar daripada manfaat kerja. Dalam keadaan seperti ini, pembangunan tidak runtuh, tetapi kehilangan momentum.

Masyarakat jarang melihat konflik itu secara langsung. Yang terasa adalah pelayanan yang melambat, proyek yang tertunda, dan arah pembangunan yang seperti ragu melangkah. Bukan karena kemampuan aparatur menurun, tetapi karena keselarasan kekuasaan tidak lagi utuh.

Ibn Khaldun pernah mengingatkan bahwa kekuasaan bertahan selama ikatan di antara pemegangnya tetap kuat. Ketika ikatan itu melemah, negara masih berdiri, tetapi tenaganya berkurang.

Sun Tzu, dengan bahasa yang lebih singkat, menulis bahwa pasukan yang tidak seirama akan kalah sebelum bertempur. Dalam pemerintahan, kekalahan itu bukan selalu berbentuk runtuhnya kekuasaan, melainkan hilangnya kecepatan, ketepatan, dan daya dorong pembangunan.

Kisah An Lushan memberi pelajaran yang sunyi namun dalam pemaknaan. Bahwa kekuasaan, dari kekaisaran besar hingga pemerintahan daerah, tidak cukup dijaga oleh aturan dan jabatan. Ia hidup dari keselarasan. Ketika keselarasan itu retak, dampaknya merambat ke mana-mana. Birokrasi, sistem kerja, hingga ke pembangunan yang seharusnya menjadi tujuan bersama.

Joseph Nye pernah menyinggung bahwa kekuasaan bukan sekadar kemampuan memerintah, tetapi kemampuan membangun hubungan kepercayaan yang memudahkan pelaksanaan keputusan. Sementara Max Weber menegaskan bahwa legitimasi pemerintahan tidak hanya dihasilkan jabatan formal tetapi dari stabilitas kepercayaan internal. Pareto mengingatkan bahwa ketika elite tidak lagi satu suara, ketika ada bagian dari lingkar dalam yang tersisih, maka "sirkulasi elite" akan terjadi, yakni pergantian kekuasaan yang sering kali berlangsung dengan wajah kekerasan.

Sejak ribuan tahun hingga hari ini, sejarah selalu mengulang pola yang sama, yang menjatuhkan sebuah kekuasaan bukanlah orang jauh, tetapi mereka yang dulu paling dekat. Kekuasaan runtuh bukan datang dari luar, tetapi keretakan dari dalam rumah yang dibiarkan tak terjaga.

Sejarah tidak datang dengan menghakimi, ia hadir untuk bercerita. Dan dari cerita itu, seakan terdengar sebagai pesan yang berulang dari masa ke masa, selama rumah dijaga, perjalanan masih bisa dilanjutkan, tetapi ketika rumah sendiri renggang, langkah akan selalu terasa berat, sejauh apa pun ingin melangkah.***

Oleh Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik


 

TERKINI
Dewan Pengurus Pusat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPP BKPRMI) resmi membuka.
Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:20:00 WIB
Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pertamina.
Senin, 17 Agustus 2026 | 10:55:58 WIB
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas berbagai inisiatif perusahaan yang mengintegrasikan.
Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:41:10 WIB
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, PT Pertamina Patra Niaga.
Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:37:18 WIB
Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pertamina.
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:00:00 WIB