16 Sya'ban 1447 H | Rabu, 4 Februari 2026
×
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
opini | Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Ramadia

PADA pertengahan abad ke 8, Dinasti Tang berdiri sebagai symbol kekuasaan yang utuh dan makmur. Wilayah luas, jalur dagang hidup dan Kota Chang’an menjadi simpul peradaban dunia Timur. Negara berjalan dengan kemajuan. Pemerintahan bekerja dalam satu keselarasan.

Sejarah tidak mencatat keruntuhan sebagai bunyi keras yang tiba-tiba. Keruntuhan sering hadir sebagai sunyi yang panjang.

An Lushan adalah Panglima perang yang tumbuh dari perbatasan. Bukan besar dari bagian elite di pusat kekuasaan, melainkan perwira yang terlatih dimedan perang dan pandai membaca situasi. Kesetiaannya dan kecakapannya diandalkan. Kekaisaran memberinya wilayah strategis, pasukan besar dan ruang gerak luas. Perbatasan aman, kekaisaran merasa tenang. Dianggap sebagai keluarga Kaisar Xuanzong..

Perlahan kepercayaan yang diberikan berganti dengan pengawasan. Orang yang diberikan kepercayaan penuh, mulai di intai dan disusupi, jangan - jangan akan melakukan kudeta dan gerakan senyap.

Ketika pemberontakan An Lushan pecah, Dinasti Tang tidak runtuh seketika. Yang terjadi adalah perang panjang yang menguras.  Jalur perdagangan terputus. Kebun dan sawah terbengkalai. Kota-kota kehilangan penduduk. 

Negara masih berdiri, tetapi mesin kehidupan makin melemah. Produksi menurun, pajak berkurang, dan birokrasi bekerja dalam tekanan dan ketakutan. Dampaknya bukan hanya pada militer. Aparatur sipil kehilangan kepastian. 

Mereka harus memilih bertahan atau menyelamatkan diri. Administrasi tersendat, bukan karena aturan hilang, tetapi karena kepercayaan yang saling curiga. Pembangunan berhenti bukan karena gagasan tak ada, melainkan karena tangan-tangan yang menjalankan tak lagi bergerak seirama. 

Sejarah mencatat, pemberontakan An Lushan adalah salah satu tragedi Demografis terbesar dalam sejarah.

An Lushan sendiri berakhir tragis. Kekuasaan yang dibangun tanpa keselarasan runtuh dari dalam. Ia justru mati terbunuh oleh orang terdekatnya. Lingkar dalam yang dulu menopang ambisi berubah menjadi sumber ketakutan.

Dinasti Tang bertahan setelah itu, tetapi tidak pernah kembali pulih. Negara masih bernama Tang, tetapi kekuasaannya pelan perlahan mulai runtuh. Dalam istilah Jared Diamond, inilah penyusutan, bukan lenyap, tetapi kehilangan kemampuan mengelola kompleksitas.

Kisah Romawi Barat, runtuh karena perebutan kekuasaan. Perang Paregreg, menjadi mula kehancuran Majapahit, kerajaan besar di Nusantara. 

Ditangkapnya Presiden Venezuela di tempat tidurnya sendiri oleh Pasukan Amerika, tidak terlepas dari pengkhianatan orang - orang dekatnya yang merasa diabaikan dan dibiarkan.

"Kerajaan Besar" tulis Ibn Kaldun "Tidak tumbang karena serangan besar, tetapi karena solidaritas yang rapuh". Ia menyebut sebagian melemahnya "Ashabiyyah". Kesadaran  kolektif yang menjadi perekat utama sebuah kekuasaan.

Pola serupa kerap muncul dalam skala yang lebih kecil di zaman sekarang.
Hubungan antara gubernur dan wakilnya, bupati dan wakilnya, wali kota dan wakilnya, sering dimulai dengan janji kebersamaan. Mereka dipilih sebagai satu paket, membawa harapan kesinambungan. Namun ketika keselarasan itu retak, dampaknya tidak berhenti pada elite politik.
Di tingkat birokrasi, ketegangan segera terasa. Aparatur mulai membaca isyarat, bukan instruksi. Loyalitas terbelah, bukan karena niat buruk, melainkan karena ketidakpastian. Program yang seharusnya berjalan cepat menjadi tertahan. Keputusan menunggu arah yang lebih jelas. Roda administrasi tetap berputar, tetapi berputar makin pelan 

Sistem kerja berubah tanpa disadari. Koordinasi antar perangkat daerah menjadi kaku. Rapat lebih sering membahas kehati-hatian daripada terobosan. Inisiatif personal berkurang, sebab risiko politik terasa lebih besar daripada manfaat kerja. Dalam keadaan seperti ini, pembangunan tidak runtuh, tetapi kehilangan momentum.

Masyarakat jarang melihat konflik itu secara langsung. Yang terasa adalah pelayanan yang melambat, proyek yang tertunda, dan arah pembangunan yang seperti ragu melangkah. Bukan karena kemampuan aparatur menurun, tetapi karena keselarasan kekuasaan tidak lagi utuh.

Ibn Khaldun pernah mengingatkan bahwa kekuasaan bertahan selama ikatan di antara pemegangnya tetap kuat. Ketika ikatan itu melemah, negara masih berdiri, tetapi tenaganya berkurang.

Sun Tzu, dengan bahasa yang lebih singkat, menulis bahwa pasukan yang tidak seirama akan kalah sebelum bertempur. Dalam pemerintahan, kekalahan itu bukan selalu berbentuk runtuhnya kekuasaan, melainkan hilangnya kecepatan, ketepatan, dan daya dorong pembangunan.

Kisah An Lushan memberi pelajaran yang sunyi namun dalam pemaknaan. Bahwa kekuasaan, dari kekaisaran besar hingga pemerintahan daerah, tidak cukup dijaga oleh aturan dan jabatan. Ia hidup dari keselarasan. Ketika keselarasan itu retak, dampaknya merambat ke mana-mana. Birokrasi, sistem kerja, hingga ke pembangunan yang seharusnya menjadi tujuan bersama.

Joseph Nye pernah menyinggung bahwa kekuasaan bukan sekadar kemampuan memerintah, tetapi kemampuan membangun hubungan kepercayaan yang memudahkan pelaksanaan keputusan. Sementara Max Weber menegaskan bahwa legitimasi pemerintahan tidak hanya dihasilkan jabatan formal tetapi dari stabilitas kepercayaan internal. Pareto mengingatkan bahwa ketika elite tidak lagi satu suara, ketika ada bagian dari lingkar dalam yang tersisih, maka "sirkulasi elite" akan terjadi, yakni pergantian kekuasaan yang sering kali berlangsung dengan wajah kekerasan.

Sejak ribuan tahun hingga hari ini, sejarah selalu mengulang pola yang sama, yang menjatuhkan sebuah kekuasaan bukanlah orang jauh, tetapi mereka yang dulu paling dekat. Kekuasaan runtuh bukan datang dari luar, tetapi keretakan dari dalam rumah yang dibiarkan tak terjaga.

Sejarah tidak datang dengan menghakimi, ia hadir untuk bercerita. Dan dari cerita itu, seakan terdengar sebagai pesan yang berulang dari masa ke masa, selama rumah dijaga, perjalanan masih bisa dilanjutkan, tetapi ketika rumah sendiri renggang, langkah akan selalu terasa berat, sejauh apa pun ingin melangkah.***

Oleh Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik


 

Index
Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Apresiasi Sinergi dan Pastikan Energi Tetap Mengalir
Kebersamaan Warga RW 06 Air Putih, Kebahagiaan Tersendiri Bagi Afriani dan Aulia
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru Terima Kunjungan Satpolairud Polres Pelalawan 
Index
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:56:59 WIB
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih
Booth UMKM Lokal Binaan Kilang Pertamina Dumai Bukukan Penjualan Hampir Rp 70 Juta
Optimal Jaga Ketahanan Energi Selama Periode Nataru 2026, Kilang Pertamina Dumai Terima Kunjungan Anggota Komite BPH Migas
MWT Malam Tahun Baru, Kilang Pertamina Dumai Pastikan Kilang Beroperasi Optimal untuk Jaga Ketersediaan Energi
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Politik
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Anggota DPR RI Karmila Sari Usul Dana BOSDA Biayai Cabor di Sekolah dan Penataan Aset PON Riau
Parisman Ihwan Mulai Goyah, Dua Statement Berbeda di Dua Media
Kader PDIP Solid Dukung Pemerintahan Prabowo Perintah Megawati
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara
Hukum
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal
Gubernur LIRA Minta Semua Pihak Menghormati Proses Hukum Yang Dijalani Abdul Wahid
Nasional
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain
PSPS Akan DIlatih Caretaker, Sampai Pengganti Ilham Datang
Didukung Anggota DPR RI Karmila Sari, Festival Pacu Sampan Tradisional di Rumbai Jadi Wisata dan Ekonomi Daerah

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
opini | Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Ramadia

PADA pertengahan abad ke 8, Dinasti Tang berdiri sebagai symbol kekuasaan yang utuh dan makmur. Wilayah luas, jalur dagang hidup dan Kota Chang’an menjadi simpul peradaban dunia Timur. Negara berjalan dengan kemajuan. Pemerintahan bekerja dalam satu keselarasan.

Sejarah tidak mencatat keruntuhan sebagai bunyi keras yang tiba-tiba. Keruntuhan sering hadir sebagai sunyi yang panjang.

An Lushan adalah Panglima perang yang tumbuh dari perbatasan. Bukan besar dari bagian elite di pusat kekuasaan, melainkan perwira yang terlatih dimedan perang dan pandai membaca situasi. Kesetiaannya dan kecakapannya diandalkan. Kekaisaran memberinya wilayah strategis, pasukan besar dan ruang gerak luas. Perbatasan aman, kekaisaran merasa tenang. Dianggap sebagai keluarga Kaisar Xuanzong..

Perlahan kepercayaan yang diberikan berganti dengan pengawasan. Orang yang diberikan kepercayaan penuh, mulai di intai dan disusupi, jangan - jangan akan melakukan kudeta dan gerakan senyap.

Ketika pemberontakan An Lushan pecah, Dinasti Tang tidak runtuh seketika. Yang terjadi adalah perang panjang yang menguras.  Jalur perdagangan terputus. Kebun dan sawah terbengkalai. Kota-kota kehilangan penduduk. 

Negara masih berdiri, tetapi mesin kehidupan makin melemah. Produksi menurun, pajak berkurang, dan birokrasi bekerja dalam tekanan dan ketakutan. Dampaknya bukan hanya pada militer. Aparatur sipil kehilangan kepastian. 

Mereka harus memilih bertahan atau menyelamatkan diri. Administrasi tersendat, bukan karena aturan hilang, tetapi karena kepercayaan yang saling curiga. Pembangunan berhenti bukan karena gagasan tak ada, melainkan karena tangan-tangan yang menjalankan tak lagi bergerak seirama. 

Sejarah mencatat, pemberontakan An Lushan adalah salah satu tragedi Demografis terbesar dalam sejarah.

An Lushan sendiri berakhir tragis. Kekuasaan yang dibangun tanpa keselarasan runtuh dari dalam. Ia justru mati terbunuh oleh orang terdekatnya. Lingkar dalam yang dulu menopang ambisi berubah menjadi sumber ketakutan.

Dinasti Tang bertahan setelah itu, tetapi tidak pernah kembali pulih. Negara masih bernama Tang, tetapi kekuasaannya pelan perlahan mulai runtuh. Dalam istilah Jared Diamond, inilah penyusutan, bukan lenyap, tetapi kehilangan kemampuan mengelola kompleksitas.

Kisah Romawi Barat, runtuh karena perebutan kekuasaan. Perang Paregreg, menjadi mula kehancuran Majapahit, kerajaan besar di Nusantara. 

Ditangkapnya Presiden Venezuela di tempat tidurnya sendiri oleh Pasukan Amerika, tidak terlepas dari pengkhianatan orang - orang dekatnya yang merasa diabaikan dan dibiarkan.

"Kerajaan Besar" tulis Ibn Kaldun "Tidak tumbang karena serangan besar, tetapi karena solidaritas yang rapuh". Ia menyebut sebagian melemahnya "Ashabiyyah". Kesadaran  kolektif yang menjadi perekat utama sebuah kekuasaan.

Pola serupa kerap muncul dalam skala yang lebih kecil di zaman sekarang.
Hubungan antara gubernur dan wakilnya, bupati dan wakilnya, wali kota dan wakilnya, sering dimulai dengan janji kebersamaan. Mereka dipilih sebagai satu paket, membawa harapan kesinambungan. Namun ketika keselarasan itu retak, dampaknya tidak berhenti pada elite politik.
Di tingkat birokrasi, ketegangan segera terasa. Aparatur mulai membaca isyarat, bukan instruksi. Loyalitas terbelah, bukan karena niat buruk, melainkan karena ketidakpastian. Program yang seharusnya berjalan cepat menjadi tertahan. Keputusan menunggu arah yang lebih jelas. Roda administrasi tetap berputar, tetapi berputar makin pelan 

Sistem kerja berubah tanpa disadari. Koordinasi antar perangkat daerah menjadi kaku. Rapat lebih sering membahas kehati-hatian daripada terobosan. Inisiatif personal berkurang, sebab risiko politik terasa lebih besar daripada manfaat kerja. Dalam keadaan seperti ini, pembangunan tidak runtuh, tetapi kehilangan momentum.

Masyarakat jarang melihat konflik itu secara langsung. Yang terasa adalah pelayanan yang melambat, proyek yang tertunda, dan arah pembangunan yang seperti ragu melangkah. Bukan karena kemampuan aparatur menurun, tetapi karena keselarasan kekuasaan tidak lagi utuh.

Ibn Khaldun pernah mengingatkan bahwa kekuasaan bertahan selama ikatan di antara pemegangnya tetap kuat. Ketika ikatan itu melemah, negara masih berdiri, tetapi tenaganya berkurang.

Sun Tzu, dengan bahasa yang lebih singkat, menulis bahwa pasukan yang tidak seirama akan kalah sebelum bertempur. Dalam pemerintahan, kekalahan itu bukan selalu berbentuk runtuhnya kekuasaan, melainkan hilangnya kecepatan, ketepatan, dan daya dorong pembangunan.

Kisah An Lushan memberi pelajaran yang sunyi namun dalam pemaknaan. Bahwa kekuasaan, dari kekaisaran besar hingga pemerintahan daerah, tidak cukup dijaga oleh aturan dan jabatan. Ia hidup dari keselarasan. Ketika keselarasan itu retak, dampaknya merambat ke mana-mana. Birokrasi, sistem kerja, hingga ke pembangunan yang seharusnya menjadi tujuan bersama.

Joseph Nye pernah menyinggung bahwa kekuasaan bukan sekadar kemampuan memerintah, tetapi kemampuan membangun hubungan kepercayaan yang memudahkan pelaksanaan keputusan. Sementara Max Weber menegaskan bahwa legitimasi pemerintahan tidak hanya dihasilkan jabatan formal tetapi dari stabilitas kepercayaan internal. Pareto mengingatkan bahwa ketika elite tidak lagi satu suara, ketika ada bagian dari lingkar dalam yang tersisih, maka "sirkulasi elite" akan terjadi, yakni pergantian kekuasaan yang sering kali berlangsung dengan wajah kekerasan.

Sejak ribuan tahun hingga hari ini, sejarah selalu mengulang pola yang sama, yang menjatuhkan sebuah kekuasaan bukanlah orang jauh, tetapi mereka yang dulu paling dekat. Kekuasaan runtuh bukan datang dari luar, tetapi keretakan dari dalam rumah yang dibiarkan tak terjaga.

Sejarah tidak datang dengan menghakimi, ia hadir untuk bercerita. Dan dari cerita itu, seakan terdengar sebagai pesan yang berulang dari masa ke masa, selama rumah dijaga, perjalanan masih bisa dilanjutkan, tetapi ketika rumah sendiri renggang, langkah akan selalu terasa berat, sejauh apa pun ingin melangkah.***

Oleh Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik


 

TERKINI

Anggota Komisi X DPR RI Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, menegaskan dukungannya terhadap program.

Rabu, 28 Januari 2026 | 13:35:00 WIB

Sejarah tidak mencatat keruntuhan sebagai bunyi keras yang tiba-tiba. Keruntuhan sering hadir.
Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Penghargaanh diberikan dalam kategori khusus Pelayanan Korban Bencana Ekologis Sumatera kepada tiga.
Selasa, 27 Januari 2026 | 11:58:49 WIB

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pertamina Patra Niaga Sumbagut dalam.

Jumat, 23 Januari 2026 | 16:00:00 WIB

Secara umum, pasokan BBM di provinsi tersebut dalam keadaan aman dan untuk wilayah terdampak,.

Senin, 19 Januari 2026 | 06:11:00 WIB