24 Sya'ban 1447 H | Kamis, 12 Februari 2026
×
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
opini | Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:56:59 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Arman

PROGRAM Makan Bergizi Gratis adalah program nasional yang dicanangkan langsung Presiden Prabowo, sekaligus realisasi janji kampanye beliau pada saat kontestasi Pilpres 2024 lalu.

Maka pada Februari 2025, pencanangan program nasional MBG menjadi bagian dari 8 (delapan) program Quick Win `Pemerintahan Presiden Prabowo diluncurkan ditengah kekhawatiran dan juga harapan masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 83 tahun 2024, sebagai payung hukum program ini menyasar 11 kelompok penerima program makan bergizi gratis ini. 

Bahkan tak tanggung-tanggung pada tahun 2025 lalu, ditargetkan program MBG akan menyasar 15-18 juta penerima manfaat.

Sebagaimana diharapkan kehadiran program ini memberikan dampak ekonomis secara meluas bagi masyarakat (multiplier effect) tidak saja bagi pengelola SPPG, namun juga pelaku usaha di sektor bahan pangan.

Faktanya, sejauh ini para pelaku usaha dari kelompok UMKM, sama sekali belum tersentuh sama sekali, sangat dirasakan adanya pengabaian terhadap kehadiran mereka oleh pengelola program ini.

Diamnya Badan Gizi Nasional semakin memperkuat pengabaian ini secara sepihak, sehingga pelaku usaha sektor bahan pangan merasa ditempatkan sebagai penonton di wilayah usahanya sendiri.

Terlebih ketika menyoroti fenomena tertutupnya ruang distribusi pasokan bagi pembudidaya atau petani sektor perikanan lokal.

Sebagaimana diketahui, saat ini para pengelola SPPG cenderung monoton dalam menata menu MBG-nya, dengan mengedepankan komoditas daging ayam dan telur.

Sehingga, dengan kondisi menu yang ada saat ini membuat variasi pasokan bahan pangan menjadi tak bervariasi, hanya sekelompok produsen bahan makanan pokok saja yang tersentuh.

Padahal, sangat disadari jika sasaran penerima program MBG adalah kelompok usia yang membutuhkan konsumsi makanan yang sarat dengan nutrisi dan protein.

Dalam hal ini, kebutuhan tersebut ada pada bahan pokok lainnya seperti ikan yang bisa diperoleh dari pelaku usaha pembudidaya perikanan.

Realitas inilah yang membuat program MBG ini hanya menjadi mimpi yang ditampilkan dalam sebuah seremonial di meja bundar menutup peluang pembudidaya untuk dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sebagai pondasi ekonomi negara.

Hal ini sangat dirasakan masyarakat Riau, tak terbendungnya inflasi karena Harga komoditi ayam yang naik begitu tajam menimbulkan kepanikan konsumen, pasar alami deflasi.

Dapur-dapur MBG berjalan tanpa arah yang jelas, penggunaan daging ayam sebagai menu makanan bergizi tidak diatur alias dibatasi setiap minggunya, padahal masih banyak bahan makanan seperti ikan yang kaya nutrisi tidak masuk dalam menu.

Beberapa survey mengungkapkan, ditemukan jika dapur MBG menetapkan menu ayam dua sampai empat kali dalam seminggu, sebuah pilihan yang sangat ironi, ketika Presiden bicara gizi, sementara pengelola di lapangan malah abai.

Sejauh ini kita mengetahui bahwa pembudidaya ayam potong dan petelur bukanlah bagian dari UMKM atau home industry, hampir seluruh pembudi daya ayam adalah korporasi yang bermodal besar.

Inilah fenomena yang terjadi di lapangan, saat ini pelaku usaha perikanan dari kelompok UMKM hanya bisa jadi penonton saja, tak tersentuh dampak langsung dari kebijakan yang dicanangkan.

Penulis justru melihat dampak positif yang diharapkan dari program ini, justru malah sebaliknya dan menimbulkan inflasi yang tak terbendung lagi.

Dalam hal ini tentunya para pemangku jabatan terkait dengan pengelolaan MBG segera mengantisipasi danmenata kembali menu MBG betul-betul yang bernutrisi dan variatif. 

Dan yang terpenting kolaborasi dalam penetapan menu MBG yang berdampak memicu gairah ekonomi kerakyatan menjadi prioritas Utama. Hal ini tentunya mampu mencegah timbulnya inflasi yang disebabkan harga ayam potong.***

 

Penulis: Arman/Pengamat UMKM

Index
Pertamina dan SERUNI Serahkan Bantuan Sarana Air Bersih dan 1.577 Tabung Bright Gas bagi Warga Pidie Jaya
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Bekali UMKM Binaan dengan Pelatihan Fotografi Produk
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Kukuhkan Muflihun Sebagai Ketua Umum, Plt Gubri Tegaskan Ikatan Putera Pekanbaru Mitra Strategis Pembangunan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pengamanan Obvitnas dan Jalur Pipa di Fuel Terminal Medan
Kenduri Anak Pekan Meriahkan Pelantikan IPP 2025–2030, Hadirkan Ragam Budaya dan Hiburan Gratis untuk Warga Pekanbaru
Apresiasi Ojol hingga Promo Hemat bagi Konsumen, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Ragam Program MyPertamina 2026
Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Kukuhkan Muflihun Sebagai Ketua Umum, Plt Gubri Tegaskan Ikatan Putera Pekanbaru Mitra Strategis Pembangunan
Kenduri Anak Pekan Meriahkan Pelantikan IPP 2025–2030, Hadirkan Ragam Budaya dan Hiburan Gratis untuk Warga Pekanbaru
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa
Index
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Apresiasi Sinergi dan Pastikan Energi Tetap Mengalir
Buka Peringatan Bulan K3 Nasional 2026, GM Kilang Pertamina Dumai Tegaskan Tidak Ada Kompromi Penerapan Budaya HSSE
Kilang Pertamina Dumai Perkuat Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Petani Lokal
Kebersamaan Warga RW 06 Air Putih, Kebahagiaan Tersendiri Bagi Afriani dan Aulia
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:56:59 WIB
Politik
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Anggota DPR RI Karmila Sari Usul Dana BOSDA Biayai Cabor di Sekolah dan Penataan Aset PON Riau
Parisman Ihwan Mulai Goyah, Dua Statement Berbeda di Dua Media
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Pertamina dan SERUNI Serahkan Bantuan Sarana Air Bersih dan 1.577 Tabung Bright Gas bagi Warga Pidie Jaya
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Bekali UMKM Binaan dengan Pelatihan Fotografi Produk
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pengamanan Obvitnas dan Jalur Pipa di Fuel Terminal Medan
Apresiasi Ojol hingga Promo Hemat bagi Konsumen, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Ragam Program MyPertamina 2026
Hukum
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal
Gubernur LIRA Minta Semua Pihak Menghormati Proses Hukum Yang Dijalani Abdul Wahid
Nasional
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain
PSPS Akan DIlatih Caretaker, Sampai Pengganti Ilham Datang
Didukung Anggota DPR RI Karmila Sari, Festival Pacu Sampan Tradisional di Rumbai Jadi Wisata dan Ekonomi Daerah

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
opini | Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:56:59 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Arman

PROGRAM Makan Bergizi Gratis adalah program nasional yang dicanangkan langsung Presiden Prabowo, sekaligus realisasi janji kampanye beliau pada saat kontestasi Pilpres 2024 lalu.

Maka pada Februari 2025, pencanangan program nasional MBG menjadi bagian dari 8 (delapan) program Quick Win `Pemerintahan Presiden Prabowo diluncurkan ditengah kekhawatiran dan juga harapan masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 83 tahun 2024, sebagai payung hukum program ini menyasar 11 kelompok penerima program makan bergizi gratis ini. 

Bahkan tak tanggung-tanggung pada tahun 2025 lalu, ditargetkan program MBG akan menyasar 15-18 juta penerima manfaat.

Sebagaimana diharapkan kehadiran program ini memberikan dampak ekonomis secara meluas bagi masyarakat (multiplier effect) tidak saja bagi pengelola SPPG, namun juga pelaku usaha di sektor bahan pangan.

Faktanya, sejauh ini para pelaku usaha dari kelompok UMKM, sama sekali belum tersentuh sama sekali, sangat dirasakan adanya pengabaian terhadap kehadiran mereka oleh pengelola program ini.

Diamnya Badan Gizi Nasional semakin memperkuat pengabaian ini secara sepihak, sehingga pelaku usaha sektor bahan pangan merasa ditempatkan sebagai penonton di wilayah usahanya sendiri.

Terlebih ketika menyoroti fenomena tertutupnya ruang distribusi pasokan bagi pembudidaya atau petani sektor perikanan lokal.

Sebagaimana diketahui, saat ini para pengelola SPPG cenderung monoton dalam menata menu MBG-nya, dengan mengedepankan komoditas daging ayam dan telur.

Sehingga, dengan kondisi menu yang ada saat ini membuat variasi pasokan bahan pangan menjadi tak bervariasi, hanya sekelompok produsen bahan makanan pokok saja yang tersentuh.

Padahal, sangat disadari jika sasaran penerima program MBG adalah kelompok usia yang membutuhkan konsumsi makanan yang sarat dengan nutrisi dan protein.

Dalam hal ini, kebutuhan tersebut ada pada bahan pokok lainnya seperti ikan yang bisa diperoleh dari pelaku usaha pembudidaya perikanan.

Realitas inilah yang membuat program MBG ini hanya menjadi mimpi yang ditampilkan dalam sebuah seremonial di meja bundar menutup peluang pembudidaya untuk dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sebagai pondasi ekonomi negara.

Hal ini sangat dirasakan masyarakat Riau, tak terbendungnya inflasi karena Harga komoditi ayam yang naik begitu tajam menimbulkan kepanikan konsumen, pasar alami deflasi.

Dapur-dapur MBG berjalan tanpa arah yang jelas, penggunaan daging ayam sebagai menu makanan bergizi tidak diatur alias dibatasi setiap minggunya, padahal masih banyak bahan makanan seperti ikan yang kaya nutrisi tidak masuk dalam menu.

Beberapa survey mengungkapkan, ditemukan jika dapur MBG menetapkan menu ayam dua sampai empat kali dalam seminggu, sebuah pilihan yang sangat ironi, ketika Presiden bicara gizi, sementara pengelola di lapangan malah abai.

Sejauh ini kita mengetahui bahwa pembudidaya ayam potong dan petelur bukanlah bagian dari UMKM atau home industry, hampir seluruh pembudi daya ayam adalah korporasi yang bermodal besar.

Inilah fenomena yang terjadi di lapangan, saat ini pelaku usaha perikanan dari kelompok UMKM hanya bisa jadi penonton saja, tak tersentuh dampak langsung dari kebijakan yang dicanangkan.

Penulis justru melihat dampak positif yang diharapkan dari program ini, justru malah sebaliknya dan menimbulkan inflasi yang tak terbendung lagi.

Dalam hal ini tentunya para pemangku jabatan terkait dengan pengelolaan MBG segera mengantisipasi danmenata kembali menu MBG betul-betul yang bernutrisi dan variatif. 

Dan yang terpenting kolaborasi dalam penetapan menu MBG yang berdampak memicu gairah ekonomi kerakyatan menjadi prioritas Utama. Hal ini tentunya mampu mencegah timbulnya inflasi yang disebabkan harga ayam potong.***

 

Penulis: Arman/Pengamat UMKM

TERKINI
Bantuan tersebut meliputi penyediaan sarana air bersih di kawasan Hunian Sementara (Huntara) Pidie.
Kamis, 12 Februari 2026 | 09:44:52 WIB
Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menyelenggarakan Pelatihan.
Rabu, 11 Februari 2026 | 08:22:40 WIB
Setelah sukses menggelar program Remaja Bernegara Session 1 pada Oktober 2025 yang lalu. Tahun 2026.
Rabu, 11 Februari 2026 | 05:57:02 WIB
Plt Gubri SF Haryanto menegaskan Ikatan Putera Pekanbaru (IPP) merupakan mitra strategis.
Minggu, 8 Februari 2026 | 14:21:14 WIB

Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Fuel Terminal Medan.

Jumat, 6 Februari 2026 | 18:02:00 WIB