16 Sya'ban 1447 H | Rabu, 4 Februari 2026
×
"Golkar Riau, Hegemoni atau Rekonsiliasi "
opini | Senin, 2 Juni 2025 | 16:41:10 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia
SF Haryanto - Parisman Ihwan dalam sebuah kesempatan

DI BALIK perebutan kursi Ketua Golkar Riau, terdapat dinamika politik yang mencerminkan lebih dari sekadar ambisi personal. 

Ini adalah soal hegemoni, rekonsiliasi elit, dan masa depan stabilitas politik di Bumi Lancang Kuning. 

Dua nama mengemuka, SF Hariyanto, Wakil Gubernur Riau yang merepresentasikan gerbong Rusli Zainal, dan Parisman Ikhwan, Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau dari gerbong Syamsuar. 

Keduanya adalah simbol dari dua matahari Golkar Riau yang selama ini berotasi dalam orbitnya masing-masing.

Narasi di permukaan tampak seperti kontestasi elite biasa. Namun, jika dicermati lebih dalam, ini adalah duel antara dua gerbong besar yang telah menjadi tulang punggung kekuasaan Golkar di Riau. 

Gerbong Rusli Zainal, dengan jaringan akar rumput dan loyalis lama, kini mendapat semangat baru melalui SF Hariyanto.

Di sisi lain, gerbong Syamsuar dengan Parisman Ikhwan sebagai garda depan membawa nafas kekuasaan yang masih segar, menyimpan kapital elektoral dan struktural yang luas.

Jika keduanya bersatu, bukan tidak mungkin Golkar Riau akan kembali pada kejayaan sebagai penguasa Riau. Tetapi seperti biasa, persoalannya bukan sekadar kekuatan, melainkan siapa yang mau menundukkan ego terlebih dahulu.

Skenario kompromi tampaknya sederhana namun sangat strategis dan harusnya menjadi pilihan lain dari scenario pertikaian. SF Hariyanto bisa diplot sebagai ketua DPD Golkar Riau, membawa legitimasi dari posisi strukturalnya di eksekutif sebagai Wakil Gubernur. 

Parisman Ikhwan diplot sebagai Sekretaris yang akan mengokohkan kontrol legislatif. Ini bukan pembagian jabatan semata, tetapi penggabungan dua jalur kekuasaan, eksekutif dan legislatif.

Jika ini terjadi, Golkar tidak hanya akan mempertahankan statusnya sebagai partai penguasa  Riau, tetapi dengan tegas menyatakan, siapun yang menang di Riau, Golkar lah pemenangnya.

Pembagian teritorial kekuasaan bisa berjalan simetris antara gerbong Rusli Zainal menjaga basis di Riau 2, sementara gerbong Syamsuar meneguhkan dominasi di Riau 1, yang merupakan kantong suara strategis. 

Dengan jalan kompromi, maka peluang Golkar menjadi lebih besar makin terbuka.

Politik tak semudah itu Ferguso??! Memang tak mudah menyatukan dua kutub yang berseberangan, tetapi dalam politik menganut Teori “tidak ada yang tidak mungkin”.

Meminjam teori Antonio Gramsci, dalam politik, pertarungan antar elit bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling mampu membangun konsensus. 

Karena dalam banyak peristiwa, kekuasaan yang bertahan lama bukan didirikan diatas dominasi, melainkan diatas kesepahaman bersama.

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid?

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid? Banyak yang melihat SF Hariyanto sebagai potensi ancaman, apalagi jika menguasai Golkar. 

Tanpa dan dengan Golkar, SF Hariyanto adalah ancaman tersendiri bagi Gubernur berkuasa, dengan melihat sejarah Riau sendiri pasca pemilihan langsung pertikaian Gubernur dan Wakil Gubernur kerap terjadi dan hampir tak ada yang bisa sejalan hingga ke ujung. 

Namun dalam logika politik Indonesia yang pragmatis, ancaman bisa dihaluskan dengan keterlibatan. 

SF Hariyanto bukan aktor baru dalam orbit Abdul Wahid. Bahkan, ada irisan politik dan history diantara keduanya. 

Istri SF Hariyanto, Adrias, adalah kader PKB yang juga anggota DPRD Riau, yang bisa menjadi kunci dan penghubung mencairkan kebuntuan. 

Maka daripada menghabiskan energi untuk konflik, akan lebih rasional bila SF diberi “mainan politik” yang justru membuatnya sibuk dalam koridor partai. Dan setiap tindakannya ada Partai sebagai corong dan ruang yang masih bisa dinegoisasikan.

Pertarungan ini bukan hanya soal Ketua Golkar Riau. Ini adalah persoalan tentang stabilitas pemerintahan daerah dan keberlangsungan program pembangunan di tengah defisit anggaran dan penghematan pemerintah pusat. 

Kita tidak bisa menutup mata bahwa politik adalah mesin mahal. Dan ketika elit politik Riau memilih untuk berperang, maka biaya itu akan ditransfer secara tak langsung kepada publik melalui stagnasi pembangunan, lewat APBD yang tersandera tarik-menarik kepentingan.

Disamping itu, Jakarta sebagai pemilik hegemoni daerah justru semakin senang dengan sengitnya pertarungan perebutan Ketua Golkar, semakin sengit berarti didalam nya ada “duit”. 

Dalam filsafat Sun Tzu, “kemenangan tertinggi adalah menang tanpa bertempur”. Ini yang seharusnya dituju oleh para elite di Riau. Bersatu dalam keragaman gerbong, dan menyatukan kekuatan demi stabilitas. 

Rekonsiliasi ini bukan hanya urusan elit, tapi menyangkut nasib jutaan masyarakat Riau.

Jika SF Hariyanto dan Parisman Ikhwan bisa menundukkan ego, jika Abdul Wahid mau membuka kanal komunikasi lebih inklusif, dan jika Golkar mampu tampil sebagai jembatan, maka Riau tidak hanya akan tenang secara politik, tapi akan menjadi model rekonsiliasi politik yang harus mendapat tempat dan hormat. Roda pemerintahan dan pembangunan pun akan berjalan jauh lebih baik. 

Politik dan ekonomi adalah dua sisi dari realitas social yang saling mempengaruhi, APBD yang stagnan dan elite yang terpecah adalah hambatan ganda bagi Pembangunan Riau. 

Pekanbaru, 1 Juni 2025
Penulis: Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik di Riau

Index
Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Apresiasi Sinergi dan Pastikan Energi Tetap Mengalir
Kebersamaan Warga RW 06 Air Putih, Kebahagiaan Tersendiri Bagi Afriani dan Aulia
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru Terima Kunjungan Satpolairud Polres Pelalawan 
Index
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:56:59 WIB
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih
Booth UMKM Lokal Binaan Kilang Pertamina Dumai Bukukan Penjualan Hampir Rp 70 Juta
Optimal Jaga Ketahanan Energi Selama Periode Nataru 2026, Kilang Pertamina Dumai Terima Kunjungan Anggota Komite BPH Migas
MWT Malam Tahun Baru, Kilang Pertamina Dumai Pastikan Kilang Beroperasi Optimal untuk Jaga Ketersediaan Energi
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Politik
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Anggota DPR RI Karmila Sari Usul Dana BOSDA Biayai Cabor di Sekolah dan Penataan Aset PON Riau
Parisman Ihwan Mulai Goyah, Dua Statement Berbeda di Dua Media
Kader PDIP Solid Dukung Pemerintahan Prabowo Perintah Megawati
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara
Hukum
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal
Gubernur LIRA Minta Semua Pihak Menghormati Proses Hukum Yang Dijalani Abdul Wahid
Nasional
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain
PSPS Akan DIlatih Caretaker, Sampai Pengganti Ilham Datang
Didukung Anggota DPR RI Karmila Sari, Festival Pacu Sampan Tradisional di Rumbai Jadi Wisata dan Ekonomi Daerah

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
"Golkar Riau, Hegemoni atau Rekonsiliasi "
opini | Senin, 2 Juni 2025 | 16:41:10 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia
SF Haryanto - Parisman Ihwan dalam sebuah kesempatan

DI BALIK perebutan kursi Ketua Golkar Riau, terdapat dinamika politik yang mencerminkan lebih dari sekadar ambisi personal. 

Ini adalah soal hegemoni, rekonsiliasi elit, dan masa depan stabilitas politik di Bumi Lancang Kuning. 

Dua nama mengemuka, SF Hariyanto, Wakil Gubernur Riau yang merepresentasikan gerbong Rusli Zainal, dan Parisman Ikhwan, Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau dari gerbong Syamsuar. 

Keduanya adalah simbol dari dua matahari Golkar Riau yang selama ini berotasi dalam orbitnya masing-masing.

Narasi di permukaan tampak seperti kontestasi elite biasa. Namun, jika dicermati lebih dalam, ini adalah duel antara dua gerbong besar yang telah menjadi tulang punggung kekuasaan Golkar di Riau. 

Gerbong Rusli Zainal, dengan jaringan akar rumput dan loyalis lama, kini mendapat semangat baru melalui SF Hariyanto.

Di sisi lain, gerbong Syamsuar dengan Parisman Ikhwan sebagai garda depan membawa nafas kekuasaan yang masih segar, menyimpan kapital elektoral dan struktural yang luas.

Jika keduanya bersatu, bukan tidak mungkin Golkar Riau akan kembali pada kejayaan sebagai penguasa Riau. Tetapi seperti biasa, persoalannya bukan sekadar kekuatan, melainkan siapa yang mau menundukkan ego terlebih dahulu.

Skenario kompromi tampaknya sederhana namun sangat strategis dan harusnya menjadi pilihan lain dari scenario pertikaian. SF Hariyanto bisa diplot sebagai ketua DPD Golkar Riau, membawa legitimasi dari posisi strukturalnya di eksekutif sebagai Wakil Gubernur. 

Parisman Ikhwan diplot sebagai Sekretaris yang akan mengokohkan kontrol legislatif. Ini bukan pembagian jabatan semata, tetapi penggabungan dua jalur kekuasaan, eksekutif dan legislatif.

Jika ini terjadi, Golkar tidak hanya akan mempertahankan statusnya sebagai partai penguasa  Riau, tetapi dengan tegas menyatakan, siapun yang menang di Riau, Golkar lah pemenangnya.

Pembagian teritorial kekuasaan bisa berjalan simetris antara gerbong Rusli Zainal menjaga basis di Riau 2, sementara gerbong Syamsuar meneguhkan dominasi di Riau 1, yang merupakan kantong suara strategis. 

Dengan jalan kompromi, maka peluang Golkar menjadi lebih besar makin terbuka.

Politik tak semudah itu Ferguso??! Memang tak mudah menyatukan dua kutub yang berseberangan, tetapi dalam politik menganut Teori “tidak ada yang tidak mungkin”.

Meminjam teori Antonio Gramsci, dalam politik, pertarungan antar elit bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling mampu membangun konsensus. 

Karena dalam banyak peristiwa, kekuasaan yang bertahan lama bukan didirikan diatas dominasi, melainkan diatas kesepahaman bersama.

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid?

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid? Banyak yang melihat SF Hariyanto sebagai potensi ancaman, apalagi jika menguasai Golkar. 

Tanpa dan dengan Golkar, SF Hariyanto adalah ancaman tersendiri bagi Gubernur berkuasa, dengan melihat sejarah Riau sendiri pasca pemilihan langsung pertikaian Gubernur dan Wakil Gubernur kerap terjadi dan hampir tak ada yang bisa sejalan hingga ke ujung. 

Namun dalam logika politik Indonesia yang pragmatis, ancaman bisa dihaluskan dengan keterlibatan. 

SF Hariyanto bukan aktor baru dalam orbit Abdul Wahid. Bahkan, ada irisan politik dan history diantara keduanya. 

Istri SF Hariyanto, Adrias, adalah kader PKB yang juga anggota DPRD Riau, yang bisa menjadi kunci dan penghubung mencairkan kebuntuan. 

Maka daripada menghabiskan energi untuk konflik, akan lebih rasional bila SF diberi “mainan politik” yang justru membuatnya sibuk dalam koridor partai. Dan setiap tindakannya ada Partai sebagai corong dan ruang yang masih bisa dinegoisasikan.

Pertarungan ini bukan hanya soal Ketua Golkar Riau. Ini adalah persoalan tentang stabilitas pemerintahan daerah dan keberlangsungan program pembangunan di tengah defisit anggaran dan penghematan pemerintah pusat. 

Kita tidak bisa menutup mata bahwa politik adalah mesin mahal. Dan ketika elit politik Riau memilih untuk berperang, maka biaya itu akan ditransfer secara tak langsung kepada publik melalui stagnasi pembangunan, lewat APBD yang tersandera tarik-menarik kepentingan.

Disamping itu, Jakarta sebagai pemilik hegemoni daerah justru semakin senang dengan sengitnya pertarungan perebutan Ketua Golkar, semakin sengit berarti didalam nya ada “duit”. 

Dalam filsafat Sun Tzu, “kemenangan tertinggi adalah menang tanpa bertempur”. Ini yang seharusnya dituju oleh para elite di Riau. Bersatu dalam keragaman gerbong, dan menyatukan kekuatan demi stabilitas. 

Rekonsiliasi ini bukan hanya urusan elit, tapi menyangkut nasib jutaan masyarakat Riau.

Jika SF Hariyanto dan Parisman Ikhwan bisa menundukkan ego, jika Abdul Wahid mau membuka kanal komunikasi lebih inklusif, dan jika Golkar mampu tampil sebagai jembatan, maka Riau tidak hanya akan tenang secara politik, tapi akan menjadi model rekonsiliasi politik yang harus mendapat tempat dan hormat. Roda pemerintahan dan pembangunan pun akan berjalan jauh lebih baik. 

Politik dan ekonomi adalah dua sisi dari realitas social yang saling mempengaruhi, APBD yang stagnan dan elite yang terpecah adalah hambatan ganda bagi Pembangunan Riau. 

Pekanbaru, 1 Juni 2025
Penulis: Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik di Riau

TERKINI

Anggota Komisi X DPR RI Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, menegaskan dukungannya terhadap program.

Rabu, 28 Januari 2026 | 13:35:00 WIB

Sejarah tidak mencatat keruntuhan sebagai bunyi keras yang tiba-tiba. Keruntuhan sering hadir.
Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Penghargaanh diberikan dalam kategori khusus Pelayanan Korban Bencana Ekologis Sumatera kepada tiga.
Selasa, 27 Januari 2026 | 11:58:49 WIB

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pertamina Patra Niaga Sumbagut dalam.

Jumat, 23 Januari 2026 | 16:00:00 WIB

Secara umum, pasokan BBM di provinsi tersebut dalam keadaan aman dan untuk wilayah terdampak,.

Senin, 19 Januari 2026 | 06:11:00 WIB