6 Rabiul Awwal 1448 H | Kamis, 20 Agustus 2026
×
Tanda Loyalitas atau Ketakutan Regenerasi ???
opini | Senin, 14 Juli 2025 | 11:56:07 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia

DI BANYAK organisasi, lembaga, baik instansi pemerintah, BUMN,BUMD maupun perusahaan swasta yang sudah mapan, fenomena karyawan senior mendekati masa pensiun, tetapi enggan memberi ruang pada proses regenerasi kian marak. 

Mereka tetap bekerja hingga hari terakhir masa dinas, seolah-olah tak rela melepas seragam yang telah dipakai puluhan tahun. Di permukaan ini tampak seperti loyalitas. 

Namun jika ditelaah lebih dalam, bisa jadi ini adalah sinyal kegagalan regenerasi dan ketakutan institusional terhadap perubahan.

Upaya transisi menuju regenerasi perusahaan bukan sekadar "cuti menjelang pensiun." 

Dalam literatur manajemen sumber daya manusia, regenerasi adalah fase strategis yang memberikan ruang bagi individu, untuk menata ulang identitas dan peran sosial pasca kerja. 

Bagi organisasi, untuk mengatur alih fungsi jabatan dan mentransfer pengetahuan. Bagi institusi, untuk menyambut generasi baru dan menyegarkan sistem kerja.

Ketika fase ini tidak dijalani, maka organisasi tidak hanya kehilangan momentum transisi, tetapi juga memperlihatkan ketergantungan yang terlalu besar pada individu. Artinya, regenerasi tidak terjadi dan sistem menjadi rapuh.

Dalam teori succession planning (Rothwell, 2010), organisasi modern perlu secara sistematis mengidentifikasi, melatih, dan menyiapkan calon-calon pengganti pada setiap level strategis.

Ini bukan semata urusan teknis, tapi menyangkut keberlangsungan nilai, visi, dan ketahanan organisasi terhadap perubahan.

Sayangnya, banyak organisasi hanya memikirkan operasional harian, tanpa menyiapkan masa depan. Ketika seseorang tetap memegang jabatan hingga detik terakhir karena tidak ada pengganti, maka organisasi sesungguhnya sedang dalam krisis regenerasi.

Fenomena enggannya seseorang untuk pensiun bukanlah hal sepele. Banyak yang takut pensiun bukan semata karena alasan ekonomi, tetapi karena faktor psikologis, sosial, bahkan identitas diri. Selama puluhan tahun, hidup mereka terpaut erat pada jabatan, lingkungan kerja, rutinitas, dan rasa dihargai. Ketika semuanya diambil dalam sekejap, maka kekosongan psikologis dan eksistensial pun muncul.

Beberapa merasa tidak siap menghadapi dunia di luar institusi. Tak sedikit pula yang khawatir kehilangan otoritas, kehilangan makna, bahkan kehilangan jati diri. 

Rasa takut ini semakin membesar ketika organisasi tidak menyediakan ruang pendampingan transisi, tidak ada program pra-pensiun, dan tidak ada narasi positif tentang fase hidup setelah karier.

Inilah yang sering tidak diantisipasi organisasi. Ketika karyawan tidak diberi bekal menghadapi masa pensiun, mereka merasa tidak ada kehidupan setelah karier. Ketakutan ini melahirkan keengganan memberi ruang pada generasi baru.

Ironisnya, ketakutan tidak hanya datang dari individu, tetapi juga dari manajemen. Banyak pimpinan enggan memberi kepercayaan pada yang lebih muda. Mereka lebih nyaman dengan pola lama dan wajah yang sudah dikenal. 

Mengutip teori organizational defensive routines (Argyris, 1990), manajemen sering menciptakan mekanisme pertahanan untuk menghindari risiko dan perubahan, meskipun itu menghambat kemajuan.

Organisasi yang sehat memberi ruang bagi regenerasi. Energi muda membawa semangat baru, pola pikir segar menantang status quo, dan gagasan baru melahirkan inovasi. Dalam era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), hanya organisasi yang adaptif yang akan bertahan.

Regenerasi penting bukan hanya dalam bidang kepemimpinan, tapi juga di bidang teknologi, pemikiran strategis, layanan publik, pendidikan, dan ekonomi. Tanpa pembaruan pemikiran dan kepemimpinan di berbagai lini, maka institusi akan kehilangan daya saing dan ketinggalan zaman. Generasi baru tidak hanya membawa semangat, tetapi juga pemahaman atas dinamika dunia yang terus berubah.

Yang muda terkadang dikatakan belum mapan, belum siap, atau belum matang, padahal kenyataannya mereka belum pernah diberi ruang dan peluang untuk berkembang. Tanpa kesempatan, potensi akan tetap terpendam.

Di sisi lain, menumpuknya banyak karyawan pada posisi tengah, sementara posisi atas enggan bergeser, menciptakan bottleneck struktural yang memperlambat roda organisasi. Ketika posisi strategis tidak pernah terbuka, maka regenerasi hanya menjadi jargon tanpa realisasi. Laju organisasi pun melambat, kehilangan daya saing di tengah perubahan zaman. Menghambat regenerasi berarti menghambat pertumbuhan.

Kita perlu mengubah paradigma, pensiun bukan akhir, tapi awal kontribusi baru. Memberi ruang pada generasi muda bukan ancaman, melainkan investasi masa depan. Mengungkung organisasi pada pola lama adalah bunuh diri perlahan.

Jika perusahaan tidak berani melakukan perubahan, menunda regenerasi, dan takut memberi ruang pada pikiran terbuka, maka ia sedang menggali kuburnya sendiri.

Fenomena enggannya regenerasi terjadi seharusnya menjadi alarm, bukan prestasi. Organisasi yang besar adalah organisasi yang berani melepaskan dan percaya pada yang muda. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu beradaptasi.***

Oleh : Ricky Rahmadia 
Penggiat Diskusi

Index
DPP BKPRMI Buka Seleksi BKPRMI Award 2026
DPP BKPRMI Buka Seleksi BKPRMI Award 2026
Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:20:00 WIB
Belanja maksimal 17 Liter, Dapatkan Diskon Rp450 per Liter di SPBU, Minimal Transaksi Rp17.000
Giliran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Hadiahi Empat Penghargaan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Apresiasi Pelanggan Setia MyPertamina Lewat Aktivasi Menarik di SPBU 
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Promo Bright Gas Semarak Merdeka
Patra Niaga Sumbagut Pastikan Kondisi SPBU Pelalawan Terkendali dan Pelayanan BBM Tetap Terjaga di SPBU Sekitar
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Semarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia Melalui MyPertamina Berbagi Hadiah Kemerdekaan di 24 SPBU
Patra Niaga Sumbagut Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis Bagi Masyarakat Terdampak
DPW BKPRMI Riau Gelar GEBER MAS Gelombang I, Dapat Apresiasi Kemenag dan Masyarakat
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Raih Predikat Platinum TSJL & CSR Award 2026, Bukti Nyata Komitmen Keberlanjutan
Snow Snow
Snow Snow


daerah
DPW BKPRMI Riau Gelar GEBER MAS Gelombang I, Dapat Apresiasi Kemenag dan Masyarakat
Perpustakaan Soeman HS Masih Menjadi Pilihan Favorit Mahasiswa Selama Ramadhan
Pimpin Konsolidasi Perdana DPP IPP, Muflihun Tegaskan Komitmen dan Program Strategis untuk Pekanbaru
Kukuhkan Muflihun Sebagai Ketua Umum, Plt Gubri Tegaskan Ikatan Putera Pekanbaru Mitra Strategis Pembangunan
Index
Komitmen Nyata Kontribusi untuk Masyarakat Patra Niaga Sumbagut Sabet 7 Penghargaan ISRA 2026
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Optimalkan Penyaluran BBM, Penuhi Kebutuhan Masyarakat Riau
Gerak Cepat Patra Niaga Sumbagut Salurkan Bantuan Masyarakat Terdampak Bencana Banjir di Padang
Kembangkan Pisang Cavendis di Pulau Birandang, Bupati Ahmad Yuzar Apresiasi Inisiatif Jefri Noer
Pastikan Keandalan Layanan SPBU Bersama Komisaris dan Direksi Pertamina Patra Niaga
Umpan Serak Gaya Ali Riza Pahlevi Kandidat Dirut Jamkrida Riau
Patra Niaga Sumbagut Pastikan Pasokan BBM Tetap Terjaga di Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau
Mulai 14 Juli 2026, Patra Niaga Lakukan Penyesuaian Harga Bright Gas di Regional Sumbagut
Perkuat Edukasi Lingkungan Melalui Program SEKAR di Kawasan Pesisir Medan
Distribusi BBM di Sumatera Utara Semakin Membaik, Patra Niaga Pastikan Pasokan Aman
Politik
Jaring Aspirasi Warga RW 11, Hamdani Diminta Perjuangkan Pencegahan Banjir di Jalan Puyuh Mas
Remaja Bernegara NasDem 2026 Dibuka, Latih Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda 
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Belanja maksimal 17 Liter, Dapatkan Diskon Rp450 per Liter di SPBU, Minimal Transaksi Rp17.000
Giliran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Hadiahi Empat Penghargaan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Apresiasi Pelanggan Setia MyPertamina Lewat Aktivasi Menarik di SPBU 
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Promo Bright Gas Semarak Merdeka
Hukum
Marwas: Suruh Aja Orang Agrinas Tu Panggil CV Tiga Bintang Sinergi
Ketika di Klarifikasi, Pimpinan BRI Yang Bersangkutan Justru Telah Dimutasi ke Wilayah Lain
Pengucuran Kredit Bank BRI Ke Kelompok Tani di Pelalawan Sarat Kejanggalan
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
Nasional
DPP BKPRMI Buka Seleksi BKPRMI Award 2026
DPP BKPRMI Buka Seleksi BKPRMI Award 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:20:00 WIB
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Batalkan Musorprov, KONI Pusat Perpanjang Masa Jabatan Pengurus KONI Riau hingga September 2026
Tiga Anggota TPP Labrak Aturan dan Arahan KONI Pusat, Fahmi: Tindakan Mereka Ilegal!!!
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
Tanda Loyalitas atau Ketakutan Regenerasi ???
opini | Senin, 14 Juli 2025 | 11:56:07 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia

DI BANYAK organisasi, lembaga, baik instansi pemerintah, BUMN,BUMD maupun perusahaan swasta yang sudah mapan, fenomena karyawan senior mendekati masa pensiun, tetapi enggan memberi ruang pada proses regenerasi kian marak. 

Mereka tetap bekerja hingga hari terakhir masa dinas, seolah-olah tak rela melepas seragam yang telah dipakai puluhan tahun. Di permukaan ini tampak seperti loyalitas. 

Namun jika ditelaah lebih dalam, bisa jadi ini adalah sinyal kegagalan regenerasi dan ketakutan institusional terhadap perubahan.

Upaya transisi menuju regenerasi perusahaan bukan sekadar "cuti menjelang pensiun." 

Dalam literatur manajemen sumber daya manusia, regenerasi adalah fase strategis yang memberikan ruang bagi individu, untuk menata ulang identitas dan peran sosial pasca kerja. 

Bagi organisasi, untuk mengatur alih fungsi jabatan dan mentransfer pengetahuan. Bagi institusi, untuk menyambut generasi baru dan menyegarkan sistem kerja.

Ketika fase ini tidak dijalani, maka organisasi tidak hanya kehilangan momentum transisi, tetapi juga memperlihatkan ketergantungan yang terlalu besar pada individu. Artinya, regenerasi tidak terjadi dan sistem menjadi rapuh.

Dalam teori succession planning (Rothwell, 2010), organisasi modern perlu secara sistematis mengidentifikasi, melatih, dan menyiapkan calon-calon pengganti pada setiap level strategis.

Ini bukan semata urusan teknis, tapi menyangkut keberlangsungan nilai, visi, dan ketahanan organisasi terhadap perubahan.

Sayangnya, banyak organisasi hanya memikirkan operasional harian, tanpa menyiapkan masa depan. Ketika seseorang tetap memegang jabatan hingga detik terakhir karena tidak ada pengganti, maka organisasi sesungguhnya sedang dalam krisis regenerasi.

Fenomena enggannya seseorang untuk pensiun bukanlah hal sepele. Banyak yang takut pensiun bukan semata karena alasan ekonomi, tetapi karena faktor psikologis, sosial, bahkan identitas diri. Selama puluhan tahun, hidup mereka terpaut erat pada jabatan, lingkungan kerja, rutinitas, dan rasa dihargai. Ketika semuanya diambil dalam sekejap, maka kekosongan psikologis dan eksistensial pun muncul.

Beberapa merasa tidak siap menghadapi dunia di luar institusi. Tak sedikit pula yang khawatir kehilangan otoritas, kehilangan makna, bahkan kehilangan jati diri. 

Rasa takut ini semakin membesar ketika organisasi tidak menyediakan ruang pendampingan transisi, tidak ada program pra-pensiun, dan tidak ada narasi positif tentang fase hidup setelah karier.

Inilah yang sering tidak diantisipasi organisasi. Ketika karyawan tidak diberi bekal menghadapi masa pensiun, mereka merasa tidak ada kehidupan setelah karier. Ketakutan ini melahirkan keengganan memberi ruang pada generasi baru.

Ironisnya, ketakutan tidak hanya datang dari individu, tetapi juga dari manajemen. Banyak pimpinan enggan memberi kepercayaan pada yang lebih muda. Mereka lebih nyaman dengan pola lama dan wajah yang sudah dikenal. 

Mengutip teori organizational defensive routines (Argyris, 1990), manajemen sering menciptakan mekanisme pertahanan untuk menghindari risiko dan perubahan, meskipun itu menghambat kemajuan.

Organisasi yang sehat memberi ruang bagi regenerasi. Energi muda membawa semangat baru, pola pikir segar menantang status quo, dan gagasan baru melahirkan inovasi. Dalam era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), hanya organisasi yang adaptif yang akan bertahan.

Regenerasi penting bukan hanya dalam bidang kepemimpinan, tapi juga di bidang teknologi, pemikiran strategis, layanan publik, pendidikan, dan ekonomi. Tanpa pembaruan pemikiran dan kepemimpinan di berbagai lini, maka institusi akan kehilangan daya saing dan ketinggalan zaman. Generasi baru tidak hanya membawa semangat, tetapi juga pemahaman atas dinamika dunia yang terus berubah.

Yang muda terkadang dikatakan belum mapan, belum siap, atau belum matang, padahal kenyataannya mereka belum pernah diberi ruang dan peluang untuk berkembang. Tanpa kesempatan, potensi akan tetap terpendam.

Di sisi lain, menumpuknya banyak karyawan pada posisi tengah, sementara posisi atas enggan bergeser, menciptakan bottleneck struktural yang memperlambat roda organisasi. Ketika posisi strategis tidak pernah terbuka, maka regenerasi hanya menjadi jargon tanpa realisasi. Laju organisasi pun melambat, kehilangan daya saing di tengah perubahan zaman. Menghambat regenerasi berarti menghambat pertumbuhan.

Kita perlu mengubah paradigma, pensiun bukan akhir, tapi awal kontribusi baru. Memberi ruang pada generasi muda bukan ancaman, melainkan investasi masa depan. Mengungkung organisasi pada pola lama adalah bunuh diri perlahan.

Jika perusahaan tidak berani melakukan perubahan, menunda regenerasi, dan takut memberi ruang pada pikiran terbuka, maka ia sedang menggali kuburnya sendiri.

Fenomena enggannya regenerasi terjadi seharusnya menjadi alarm, bukan prestasi. Organisasi yang besar adalah organisasi yang berani melepaskan dan percaya pada yang muda. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu beradaptasi.***

Oleh : Ricky Rahmadia 
Penggiat Diskusi

TERKINI
Dewan Pengurus Pusat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPP BKPRMI) resmi membuka.
Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:20:00 WIB
Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pertamina.
Senin, 17 Agustus 2026 | 10:55:58 WIB
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas berbagai inisiatif perusahaan yang mengintegrasikan.
Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:41:10 WIB
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, PT Pertamina Patra Niaga.
Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:37:18 WIB
Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pertamina.
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:00:00 WIB