16 Sya'ban 1447 H | Rabu, 4 Februari 2026
×
Tanda Loyalitas atau Ketakutan Regenerasi ???
opini | Senin, 14 Juli 2025 | 11:56:07 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia

DI BANYAK organisasi, lembaga, baik instansi pemerintah, BUMN,BUMD maupun perusahaan swasta yang sudah mapan, fenomena karyawan senior mendekati masa pensiun, tetapi enggan memberi ruang pada proses regenerasi kian marak. 

Mereka tetap bekerja hingga hari terakhir masa dinas, seolah-olah tak rela melepas seragam yang telah dipakai puluhan tahun. Di permukaan ini tampak seperti loyalitas. 

Namun jika ditelaah lebih dalam, bisa jadi ini adalah sinyal kegagalan regenerasi dan ketakutan institusional terhadap perubahan.

Upaya transisi menuju regenerasi perusahaan bukan sekadar "cuti menjelang pensiun." 

Dalam literatur manajemen sumber daya manusia, regenerasi adalah fase strategis yang memberikan ruang bagi individu, untuk menata ulang identitas dan peran sosial pasca kerja. 

Bagi organisasi, untuk mengatur alih fungsi jabatan dan mentransfer pengetahuan. Bagi institusi, untuk menyambut generasi baru dan menyegarkan sistem kerja.

Ketika fase ini tidak dijalani, maka organisasi tidak hanya kehilangan momentum transisi, tetapi juga memperlihatkan ketergantungan yang terlalu besar pada individu. Artinya, regenerasi tidak terjadi dan sistem menjadi rapuh.

Dalam teori succession planning (Rothwell, 2010), organisasi modern perlu secara sistematis mengidentifikasi, melatih, dan menyiapkan calon-calon pengganti pada setiap level strategis.

Ini bukan semata urusan teknis, tapi menyangkut keberlangsungan nilai, visi, dan ketahanan organisasi terhadap perubahan.

Sayangnya, banyak organisasi hanya memikirkan operasional harian, tanpa menyiapkan masa depan. Ketika seseorang tetap memegang jabatan hingga detik terakhir karena tidak ada pengganti, maka organisasi sesungguhnya sedang dalam krisis regenerasi.

Fenomena enggannya seseorang untuk pensiun bukanlah hal sepele. Banyak yang takut pensiun bukan semata karena alasan ekonomi, tetapi karena faktor psikologis, sosial, bahkan identitas diri. Selama puluhan tahun, hidup mereka terpaut erat pada jabatan, lingkungan kerja, rutinitas, dan rasa dihargai. Ketika semuanya diambil dalam sekejap, maka kekosongan psikologis dan eksistensial pun muncul.

Beberapa merasa tidak siap menghadapi dunia di luar institusi. Tak sedikit pula yang khawatir kehilangan otoritas, kehilangan makna, bahkan kehilangan jati diri. 

Rasa takut ini semakin membesar ketika organisasi tidak menyediakan ruang pendampingan transisi, tidak ada program pra-pensiun, dan tidak ada narasi positif tentang fase hidup setelah karier.

Inilah yang sering tidak diantisipasi organisasi. Ketika karyawan tidak diberi bekal menghadapi masa pensiun, mereka merasa tidak ada kehidupan setelah karier. Ketakutan ini melahirkan keengganan memberi ruang pada generasi baru.

Ironisnya, ketakutan tidak hanya datang dari individu, tetapi juga dari manajemen. Banyak pimpinan enggan memberi kepercayaan pada yang lebih muda. Mereka lebih nyaman dengan pola lama dan wajah yang sudah dikenal. 

Mengutip teori organizational defensive routines (Argyris, 1990), manajemen sering menciptakan mekanisme pertahanan untuk menghindari risiko dan perubahan, meskipun itu menghambat kemajuan.

Organisasi yang sehat memberi ruang bagi regenerasi. Energi muda membawa semangat baru, pola pikir segar menantang status quo, dan gagasan baru melahirkan inovasi. Dalam era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), hanya organisasi yang adaptif yang akan bertahan.

Regenerasi penting bukan hanya dalam bidang kepemimpinan, tapi juga di bidang teknologi, pemikiran strategis, layanan publik, pendidikan, dan ekonomi. Tanpa pembaruan pemikiran dan kepemimpinan di berbagai lini, maka institusi akan kehilangan daya saing dan ketinggalan zaman. Generasi baru tidak hanya membawa semangat, tetapi juga pemahaman atas dinamika dunia yang terus berubah.

Yang muda terkadang dikatakan belum mapan, belum siap, atau belum matang, padahal kenyataannya mereka belum pernah diberi ruang dan peluang untuk berkembang. Tanpa kesempatan, potensi akan tetap terpendam.

Di sisi lain, menumpuknya banyak karyawan pada posisi tengah, sementara posisi atas enggan bergeser, menciptakan bottleneck struktural yang memperlambat roda organisasi. Ketika posisi strategis tidak pernah terbuka, maka regenerasi hanya menjadi jargon tanpa realisasi. Laju organisasi pun melambat, kehilangan daya saing di tengah perubahan zaman. Menghambat regenerasi berarti menghambat pertumbuhan.

Kita perlu mengubah paradigma, pensiun bukan akhir, tapi awal kontribusi baru. Memberi ruang pada generasi muda bukan ancaman, melainkan investasi masa depan. Mengungkung organisasi pada pola lama adalah bunuh diri perlahan.

Jika perusahaan tidak berani melakukan perubahan, menunda regenerasi, dan takut memberi ruang pada pikiran terbuka, maka ia sedang menggali kuburnya sendiri.

Fenomena enggannya regenerasi terjadi seharusnya menjadi alarm, bukan prestasi. Organisasi yang besar adalah organisasi yang berani melepaskan dan percaya pada yang muda. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu beradaptasi.***

Oleh : Ricky Rahmadia 
Penggiat Diskusi

Index
Karmila Sari Fokus Pendidikan Wilayah 3T, Bersama Bupati Rohil Usulkan Sekolah Garuda ke Pemerintah Pusat
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
Kisah An Lushan dan Retaknya Kekuasaan.
Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Apresiasi Sinergi dan Pastikan Energi Tetap Mengalir
Kebersamaan Warga RW 06 Air Putih, Kebahagiaan Tersendiri Bagi Afriani dan Aulia
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru
Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru Terima Kunjungan Satpolairud Polres Pelalawan 
Index
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
Kebijakan Menu MBG Justru Memicu Inflasi?
Sabtu, 10 Januari 2026 | 10:56:59 WIB
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih
Booth UMKM Lokal Binaan Kilang Pertamina Dumai Bukukan Penjualan Hampir Rp 70 Juta
Optimal Jaga Ketahanan Energi Selama Periode Nataru 2026, Kilang Pertamina Dumai Terima Kunjungan Anggota Komite BPH Migas
MWT Malam Tahun Baru, Kilang Pertamina Dumai Pastikan Kilang Beroperasi Optimal untuk Jaga Ketersediaan Energi
Hore.., Aspirasi Anggota DPR RI Karmila Sari Beasiswa KIP dan PIP di Riau Sudah Masuk ke Rekening Siswa
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal
Resmi Maju Calon Ketua IPP: Muflihun Akan Satukan Seluruh Putera Putri Pekanbaru
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Politik
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Anggota DPR RI Karmila Sari Usul Dana BOSDA Biayai Cabor di Sekolah dan Penataan Aset PON Riau
Parisman Ihwan Mulai Goyah, Dua Statement Berbeda di Dua Media
Kader PDIP Solid Dukung Pemerintahan Prabowo Perintah Megawati
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Komitmen ESG Berkelanjutan, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Raih Tiga IGA 2026 Berpredikat Platinum
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pemulihan Huntara Ketapiang Bersama Direksi Pertamina dan DPR RI Komisi VI
BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh
BPH Migas Dukung Optimalisasi Penyaluran BBM Untuk Nelayan di Nias Utara
Hukum
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal
Gubernur LIRA Minta Semua Pihak Menghormati Proses Hukum Yang Dijalani Abdul Wahid
Nasional
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain
PSPS Akan DIlatih Caretaker, Sampai Pengganti Ilham Datang
Didukung Anggota DPR RI Karmila Sari, Festival Pacu Sampan Tradisional di Rumbai Jadi Wisata dan Ekonomi Daerah

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
Tanda Loyalitas atau Ketakutan Regenerasi ???
opini | Senin, 14 Juli 2025 | 11:56:07 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia

DI BANYAK organisasi, lembaga, baik instansi pemerintah, BUMN,BUMD maupun perusahaan swasta yang sudah mapan, fenomena karyawan senior mendekati masa pensiun, tetapi enggan memberi ruang pada proses regenerasi kian marak. 

Mereka tetap bekerja hingga hari terakhir masa dinas, seolah-olah tak rela melepas seragam yang telah dipakai puluhan tahun. Di permukaan ini tampak seperti loyalitas. 

Namun jika ditelaah lebih dalam, bisa jadi ini adalah sinyal kegagalan regenerasi dan ketakutan institusional terhadap perubahan.

Upaya transisi menuju regenerasi perusahaan bukan sekadar "cuti menjelang pensiun." 

Dalam literatur manajemen sumber daya manusia, regenerasi adalah fase strategis yang memberikan ruang bagi individu, untuk menata ulang identitas dan peran sosial pasca kerja. 

Bagi organisasi, untuk mengatur alih fungsi jabatan dan mentransfer pengetahuan. Bagi institusi, untuk menyambut generasi baru dan menyegarkan sistem kerja.

Ketika fase ini tidak dijalani, maka organisasi tidak hanya kehilangan momentum transisi, tetapi juga memperlihatkan ketergantungan yang terlalu besar pada individu. Artinya, regenerasi tidak terjadi dan sistem menjadi rapuh.

Dalam teori succession planning (Rothwell, 2010), organisasi modern perlu secara sistematis mengidentifikasi, melatih, dan menyiapkan calon-calon pengganti pada setiap level strategis.

Ini bukan semata urusan teknis, tapi menyangkut keberlangsungan nilai, visi, dan ketahanan organisasi terhadap perubahan.

Sayangnya, banyak organisasi hanya memikirkan operasional harian, tanpa menyiapkan masa depan. Ketika seseorang tetap memegang jabatan hingga detik terakhir karena tidak ada pengganti, maka organisasi sesungguhnya sedang dalam krisis regenerasi.

Fenomena enggannya seseorang untuk pensiun bukanlah hal sepele. Banyak yang takut pensiun bukan semata karena alasan ekonomi, tetapi karena faktor psikologis, sosial, bahkan identitas diri. Selama puluhan tahun, hidup mereka terpaut erat pada jabatan, lingkungan kerja, rutinitas, dan rasa dihargai. Ketika semuanya diambil dalam sekejap, maka kekosongan psikologis dan eksistensial pun muncul.

Beberapa merasa tidak siap menghadapi dunia di luar institusi. Tak sedikit pula yang khawatir kehilangan otoritas, kehilangan makna, bahkan kehilangan jati diri. 

Rasa takut ini semakin membesar ketika organisasi tidak menyediakan ruang pendampingan transisi, tidak ada program pra-pensiun, dan tidak ada narasi positif tentang fase hidup setelah karier.

Inilah yang sering tidak diantisipasi organisasi. Ketika karyawan tidak diberi bekal menghadapi masa pensiun, mereka merasa tidak ada kehidupan setelah karier. Ketakutan ini melahirkan keengganan memberi ruang pada generasi baru.

Ironisnya, ketakutan tidak hanya datang dari individu, tetapi juga dari manajemen. Banyak pimpinan enggan memberi kepercayaan pada yang lebih muda. Mereka lebih nyaman dengan pola lama dan wajah yang sudah dikenal. 

Mengutip teori organizational defensive routines (Argyris, 1990), manajemen sering menciptakan mekanisme pertahanan untuk menghindari risiko dan perubahan, meskipun itu menghambat kemajuan.

Organisasi yang sehat memberi ruang bagi regenerasi. Energi muda membawa semangat baru, pola pikir segar menantang status quo, dan gagasan baru melahirkan inovasi. Dalam era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), hanya organisasi yang adaptif yang akan bertahan.

Regenerasi penting bukan hanya dalam bidang kepemimpinan, tapi juga di bidang teknologi, pemikiran strategis, layanan publik, pendidikan, dan ekonomi. Tanpa pembaruan pemikiran dan kepemimpinan di berbagai lini, maka institusi akan kehilangan daya saing dan ketinggalan zaman. Generasi baru tidak hanya membawa semangat, tetapi juga pemahaman atas dinamika dunia yang terus berubah.

Yang muda terkadang dikatakan belum mapan, belum siap, atau belum matang, padahal kenyataannya mereka belum pernah diberi ruang dan peluang untuk berkembang. Tanpa kesempatan, potensi akan tetap terpendam.

Di sisi lain, menumpuknya banyak karyawan pada posisi tengah, sementara posisi atas enggan bergeser, menciptakan bottleneck struktural yang memperlambat roda organisasi. Ketika posisi strategis tidak pernah terbuka, maka regenerasi hanya menjadi jargon tanpa realisasi. Laju organisasi pun melambat, kehilangan daya saing di tengah perubahan zaman. Menghambat regenerasi berarti menghambat pertumbuhan.

Kita perlu mengubah paradigma, pensiun bukan akhir, tapi awal kontribusi baru. Memberi ruang pada generasi muda bukan ancaman, melainkan investasi masa depan. Mengungkung organisasi pada pola lama adalah bunuh diri perlahan.

Jika perusahaan tidak berani melakukan perubahan, menunda regenerasi, dan takut memberi ruang pada pikiran terbuka, maka ia sedang menggali kuburnya sendiri.

Fenomena enggannya regenerasi terjadi seharusnya menjadi alarm, bukan prestasi. Organisasi yang besar adalah organisasi yang berani melepaskan dan percaya pada yang muda. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu beradaptasi.***

Oleh : Ricky Rahmadia 
Penggiat Diskusi

TERKINI

Anggota Komisi X DPR RI Dr Hj Karmila Sari, SKom, MM, menegaskan dukungannya terhadap program.

Rabu, 28 Januari 2026 | 13:35:00 WIB

Sejarah tidak mencatat keruntuhan sebagai bunyi keras yang tiba-tiba. Keruntuhan sering hadir.
Selasa, 27 Januari 2026 | 13:33:21 WIB
Penghargaanh diberikan dalam kategori khusus Pelayanan Korban Bencana Ekologis Sumatera kepada tiga.
Selasa, 27 Januari 2026 | 11:58:49 WIB

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pertamina Patra Niaga Sumbagut dalam.

Jumat, 23 Januari 2026 | 16:00:00 WIB

Secara umum, pasokan BBM di provinsi tersebut dalam keadaan aman dan untuk wilayah terdampak,.

Senin, 19 Januari 2026 | 06:11:00 WIB